Perhatikan Hal Berikut Sebelum Anda Mengonsumsi Jamu (Bagian 3)
Oleh: Tim Artikel Carijamu

Teman-teman masih ingat apa saja 3 aspek penting yang sudah dibahas di bagian sebelumnya bagian ke satu dan bagian ke dua maka sangat perlu diperhatikan ketika ingin mengonsumsi jamu? Yap benar, 3 aspek itu adalah ketepatan waktu penggunaan, ketepatan dosis, dan ketepatan cara penggunaan. Di tulisan ini, akan dibahas lagi aspk penting lainnya, yaitu ketepatan pemilihan bahan secara benar dan ketepatan pemilihan tumbuhan obat atau ramuan obat untuk indikasi tertentu. Yuk simak pembahasannya!

1. Ketepatan Pemilihan Bahan secara Benar
Indonesia adalah negeri yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat melimpah dan beragam, termasuk banyaknya spesies tumbuhan obat. Terkadang, banyaknya spesies tumbuhan obat membuat sulit untuk membedakan satu dengan yang lainnya, terutama yang memiliki kemiripan morfologi. Padahal, kebenaran bahan tumbuhan yang dipilih dalam obat tradisional akan menentukan tercapai atau tidaknya efek terapi yang diingikan.

Sebagai contoh, tumbuhan lempuyang memiliki beberapa ragam yang agak sulit dibedakan satu dengan yang lainnya. Lempuyang emprit (Zingiber americans) memiliki bentuk relatif lebih kecil, berwarna kuning dengan rasa yang pahit. Lempuyang emprit ini secara empiris dimanfaatkan sebagai penambah nafsu makan. Jenis yang kedua adalah lempuyang gajah (Zingiber zerumbet) yang memiliki ukuran rhizoma paling besar dan warna kuning tetapi pucat. Secara tradisional, pemanfaatan lempuyang gajah ini lebih luas, selain sebagai penambah nafsu makan juga dimanfaatkan sebagai obat sakit kepala, pembengkakan, flu, dan mual muntah. Jenis yang terakhir adalah lempuyang wangi (Zingiber aromaticum) yang memiliki warna putih dan aroma yang lebih harum daripada dua jenis lempuyang lainnya. Tidak seperti kedua jenis lempuyang lainnya, lempuyang wangi ini justru dimanfaatkan sebagai ramuan pelangsing. Jika tidak cermat dalam memilih bahan, bisa terjadi kesalahan yang sangat fatal. Tujuan awal ingin melangsingkan tubuh dengan menggunakan lempuyang wangi, namun nafsu makan malah meningkat karena yang digunakan adalah lempuyang emprit atau lempuyang gajah. Kerancuan serupa juga sering terjadi antara tumbuhan ngokilo yang dianggap sama dengan keji beling, daun sambung nyawa dengan daun dewa.

2.Ketepatan Pemilihan Tumbuhan Obat untuk Indikasi Tertentu

Keunikan dari tumbuhan obat adalah dalam satu tumbuhan terdapat banyak senyawa aktif dan masing-masing senyawa aktif tersebut memiliki efek klinis yang berbeda. Selain pertimbangan manfaat, perlu juga dipertimbangkan terkait kemungkinan efek lain yang bisa menjadi kontraproduktif terhadap tujuan terapi dengan indikasi tertentu.

Sebagai contoh kasusnya adalah alkaloid dalam daun tapak dara (Vinca rosea) yang berpotensi dikembangkan sebagai obat diabetes. Alkaloid dalam daun tapak dara itu disebut vinkristin dan vinblastin yang mengakibatkan menurunnya leukosit (sel darah putih) hingga mencapai ±30%. Efek ini menyebabkan seseorang yang mengonsumsi daun tapak dara menjadi rentan terhadap penyakit infeksi, karena sel darah putih yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai ancaman infeksi jumlahnya berkurang cukup drastis. Padahal, tata laksana terapi diabetes membutuhkan waktu yang lama, sehingga daun tapak dara ini tidak cocok untuk dikembangkan sebagai obat diabetes, karena akan memberi resiko buruk bagi penderita diabetes. Oleh karena itu, kandungan vinkristin dan vinblastin dalam daun tapak dara ini lebih diarahkan sebagai terapi untuk kanker darah (leukimia).

Contoh lainnya adalah pada tumbuhan pare (Momordica charantia). Tumbuhan yang sering dijadikan lalapan ini mengandung alfa-momorkorin, beta momorkorin, dan momordica antiviral protein-30 (MAP-30) yang bermanfaat sebagai anti HIV/AIDS. Akan tetapi, pare juga mengandung mengandung triterpenoid yang mempunyai aktivitas antispermatozoa, sehingga konsumsi pare dalam jangka panjang dapat mematikan sperma, memicu impotensi, merusak buah zakar dan hormon seks pada pria. Dari kedua contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa perlunya pertimbangan yang matang saat memilih tumbuhan obat untuk dijadikan terapi pada indikasi tertentu.

Referensi:
Basch, E., Gabardi, S., Ulbricht, C, 2003, Bitter melon (Momordica charantia): a review of efficacy and safety, Journal of American Medical Association, 294(18): 2342-2351.

Grover, J.K., Yadav, S. P, 2004, Pharmacological actions and potential uses of Momordica charantia: a review, Journal of Ethnopharmacol, 93(1): 123-132.

Wu, M.L., Deng, J. F., Wu, J. C., Fan, F. S., Yang, C. F, 2004, Severe bone marrow depression induced by anticancer herb, J Toxicol Clin, 42(5): 667-671.

Share This