Kapan Mulai Menggunakan Anti Aging ?

Kapan Mulai Menggunakan Anti Aging ?

Kapan Mulai Menggunakan Anti Aging ?

Oleh : Tim Artikel Carijamu.com

Proses penuaan merupakan proses alami yang akan dialami setiap orang. Tidak semua orang mengalami penuaan kulit sesuai dengan usianya, inilah yang disebut penuaan dini.  Bisa lebih cepat atau lebih lambat bila dibandingkan dengan orang lain. Penuaan dini bisa terjadi pada siapa saja. Terutama di Indonesia yang merupakan daerah beriklim tropis dengan sinar matahari berlimpah. Proses degeneratif kulit yang terlalu sering terpapar sinar ultraviolet berlangsung lebih cepat.

Paparan sinar matahari yang berlebihan merupakan salah satu faktor penyebab menurunnya produksi kolagen dalam dermis kulit, karena paparan sinar matahari yang berlebih menyebabkan munculnya enzim proteolisis dari radikal bebas yang terbentuk. Enzim inilah yang selanjutnya akan merusak kulit, menghancurkan kolagen, dan jaringan penghubung yang ada di bawah kulit dermis.

Normalnya, proses penuaan (aging) terjadi pada usia 20-an, namun biasanya belum memunculkan tanda-tanda penuaan pada kulit khususnya wajah. Hal ini terjadi karena kulit masih mampu menyeimbangkan dan menghambat proses-proses penuaan dengan membentuk sel-sel baru. Memasuki usia 30, kulit akan semakin berkurang kemampuannya dalam memproduksi sel-sel baru. Sehingga, proses penuaan itu tidak bisa dihambat lagi.

Adapun  tanda-tanda penuaan pada wajah meliputi :

  • Kulit terlihat kering dan tipis.
  • Muncul garis-garis atau kerutan halus pada kulit.
  • Muncul pigmentasi kulit (age spot).
  • Kulit terlihat tidak kencang.
  • Kulita terlihat kusam dan tidak segar.

Ketakutan akan tampilan kulit yang keriput, membuat wanita yang masih berumur 20-an menggunakan krim anti aging. Lantas, sejak umur berapakah wanita disarankan mulai menggunakan krim anti aging ?

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Atmaja dkk. (2012) menerangkan bahwa penggunaan anti aging yang efektif untuk menigkatkan kualitas kondisi wajah, memperhalus dan mengencangkan tekstur, serta mengurangi kerutan wajah antara usia 25-29 tahun dan usia 30 tahun ke atas. Namun dalam perubahan kerutan, kosmetika anti aging wajah sangat efektif berefek pada usia 30 keatas, dikarenakan pada di usia lebih dari 30 tahun kerutan pada wajah terlihat sangat jelas. Maka dari itu, sangat disarankan untuk menggunakan kosmetika anti aging di usia ini. Hal ini dibuktikan dengan adanya perubahan kulit setelah menggunakan kosmetika anti aging selama 1 bulan pada kelompok eksperimen. Di mana hasil berupa terjadinya perubahan pada tesktur kulit wajah menjadi lebih halus dan kencang, kerutan di wajah berkurang dan noda-noda gelap dapat tersamarkan.

Dr. Eddy Karta, SpKK, dokter spesialis kulit menyarankan agar melakukan perawatan kulit sedini mungkin agar efek penuaan dini bisa dicegah atau minimal diperlambat. Perawatan ini bisa dilakukan dengan cara rutin menggunakan produk-produk perawatan kulit yang dapat memperlambat timbulnya tanda-tanda penuaan pada kulit. Bahan-bahan anti aging yang sudah terbukti secara klinis bermanfaat positif, aman, dan baik bagi kulit adalah retinol, alpha hidroxy acids, peptida, dan antioksidan seperti vitamin C dan teh hijau.

Referensi :

  1. Muliyawan, D. dan Suriana, N. 2013. A-Z Tentang Kosmetik. Jakarta : Elex Media Komputindo.
  2. Atmaja, N. S., Marwiyah, Setyowati, E. 2012. Pengaruh Kosmetika Anti Aging wajah Terhadap Hasil Perawatan Kulit Wajah. Journal of Beauty and Beauty Health Education1 (1) : 8-9.
RABIES : Tekan Kasusnya, Cegah Penularannya

RABIES : Tekan Kasusnya, Cegah Penularannya

RABIES : Tekan Kasusnya, Cegah Penularannya

Oleh : Tim Artikel Carijamu

Rabies atau penyakit anjing gila merupakan penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat (otak) disebabkan oleh virus rabies. Rabies ditularkan kepada manusia melalui pajanan atau gigitan hewan sehingga termasuk ke dalam kelompok penyakit zoonosa (zoonosis) yaitu penyakit yang ditularkan oleh hewan ke manusia. Rabies tidak dapat langsung disimpulkan bahwa disebabkan oleh pajanan atau gigitan semua hewan. Namun hanya beberapa hewan yang sudah terbukti secara penelitian yang dapat menyebabkan rabies, misalnya seperti anjing, kera, musang, anjing liar, dan kucing.

Di Indonesia kasus rabies muncul pertama kali sekitar tahun 1884 dan prevalensi kejadiannya kian meningkat dari tahun ke tahun. Selama periode 2011 hingga 2017, ada lebih 500.000 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang dilaporkan di Indonesia dan sebanyak 836 kasus positif rabies. Kawasan Asia dan Afrika menjadi kontributor terbesar kasus rabies hingga mencapai 95% (Depkes, 2018). Di Indonesia hewan penular utama yaitu anjing sebesar 98%, monyet dan kucing sebesar 2% (Infodatin rabies, 2016). Infeksi  rabies baik pada hewan maupun pada manusia yang telah menunjukkan gejala dan tanda klinis rabies pada otak (Encephalomyelitis) berakhir dengan kematian. Hanya terdapat 1 (satu) penderita yang hidup di dunia.

Dengan tema dari peringatan World Rabies Day (WRD) atau Hari Rabies Sedunia tahun 2019 yaitu Vaccinate to eliminate, masya­rakat internasional di­dorong untuk mem­vaksin hewan peli­haraan­nya guna menekan terjadi­nya kasus rabies. Di Indonesia kasus rabies cukup menjadi sorotan dari semua elemen baik negara (Kementrian Kesehatan RI) maupun masyarakat umum. Penatalaksanaan dan pencegahan kasus rabies sudah banyak digencarkan oleh Kementrian Kesehatan RI melalui infodatin (salah satu bentuk  produk informasi publik dalam bentuk newsletter) dan berbagai media lainnya.

Dikutip dari infodatin rabies tahun 2016 tentang tatalaksana Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) adalah sebagai berikut :

  1. Pencucian luka

Pencucian luka merupakan langkah pertama yang sangat penting. Luka gigitan dicuci        dengan air mengalir dan sabun/deterjen selama 10-15 menit.

  1. Pemberian Antiseptik

Pemberian antiseptik (alkohol 70%, betadine, obat merah, dll) dapat diberikan setelah pencucian luka.

  1. Tindakan penunjang

Luka karena Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) tidak boleh dijahit untuk mengurangi invasi atau masuknya virus pada jaringan luka, kecuali luka yang lebar dan dalam yang terus menerus mengeluarkan darah, dapat dilakukan jahitan (untuk menghentikan perdarahan). Sebelum dilakukan penjahitan luka, harus dibeikan suntikan infiltrasi Serum Anti Rabies (SAR) sebanyak mungkin disekitar luka.

Dikutip dari infodatin rabies tahun 2014 tentang pencegahan rabies adalah sebagai berikut:

  1. Pemeliharaan hewan piaraan dilaksanakan penuh rasa tanggung jawab dan memperhatikan kesejahteraan hewan, jangan diliarkan atau diumbar keluar pekarangan rumah tanpa pengawasan dan kendali ikatan.
  2. Berikan vaksinasi anti rabies pada hewan peliharaan anda secara berkala di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), dinas kesehatan hewan atau dinas peternakan, atau ke dokter hewan.
  3. Segera melapor ke puskesmas/rumah sakit terdekat apabila digigit oleh hewan tersangka rabies untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) sesuai indikasi.
  4. Apabila melihat binatang dengan gejala rabies, segera laporkan kpada Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), dinas peternakan/ yang membawahi bidang peternakan atau dinas kesehatan hewan.

Rabies dapat dikatakan penyakit yang fatal dan sangat mematikan. Untuk itu diperlukan perhatian khusus terhadap pencegahan dan penanganannya. Dengan memberikan vaksinasi terhadap hewan peliharaan merupakan salah satu langkah preventif (pencegahan) terhadap penularan rabies di dunia.

Referensi :

  1. Departemen Kesehatan RI. 2018. Rabies Penyaki Paling Mematikan di Dunia.                           http://www.depkes.go.id/article/view/18100300005/rabies-penyakit-paling-mematikan-di-dunia.html. (Diakses 25 September 2019)
  2. Kementerian kesehatan RI. INFODATIN Pusat Data dan Informasi Kemeterian                         Kesehatan RI Rabies. 2014.
  3. Kementerian kesehatan RI. INFODATIN Pusat Data dan Informasi Kemeterian                            Kesehatan RI Rabies. 2016.

SENGKUBAK: Vetsin alami dari Kalimantan Barat

SENGKUBAK: Vetsin alami dari Kalimantan Barat

SENGKUBAK: Vetsin alami dari Kalimantan Barat
Oleh : Tim Artikel Carijamu

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki ragam budaya seperti tarian daerah, upacara adat, ragam kesenian, pakaian tradisional, hingga kuliner. Kuliner Indonesia merupakan salah satu hal yang sangat terkenal bahkan sampai ke mancanegara, diantaranya yaitu rendang, sate, dan nasi goreng. Kekayaan rempah yang dimiliki oleh Indonesia membuat masakan Indonesia memiliki cita rasa yang khas. Salah satu bahan masakan yang selalu hadir ialah penyedap rasa, seperti garam, gula, lada, dan lainnya, namun tidak jarang pula masyarakat Indonesia menggunakan penyedap rasa instan seperti beberapa merk terkenal yang mayoritas mengandung vetsin atau MSG (Monosodium glutamate).

                Berdasarkan laporan Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) menyebutkan secara umum vetsin atau Monosodium glutamate (MSG) aman dikonsumsi, tetapi terdapat dua kelompok yang menunjukkan reaksi akibat konsumsi MSG ini. Pertama adalah kelompok orang yang sensitif terhadap MSG yang berakibat muncul keluhan berupa rasa panas di leher, lengan dan dada, diikuti kaku pada otot dari daerah tersebut menyebar sampai ke punggung. Adapun Gejala lain berupa rasa panas dan kaku di wajah diikuti nyeri dada, sakit kepala, mual, berdebar-debar dan terkadang sampai muntah. Gejala ini mirip dengan Chinese Restaurant Syndrome, tetapi kemudian lebih tepat disebut MSG Complex Syndrome. Sindrom ini terjadi segera atau sekitar 30 menit setelah konsumsi dan bertahan selama sekitar 3-5 jam. Sedangkan kelompok kedua adalah penderita asma, yang banyak mengeluh meningkatnya serangan setelah mengkonsumsi MSG. Munculnya keluhan di kedua kelompok tersebut terutama pada konsumsi sekitar 0,5-2,5 g MSG (Widyalita, dkk., 2014).

                Selain MSG Complex Syndrome, keinginan untuk menjalalankan gaya hidup sehat membuat masyarakat lebih memilih menggunakan penyedap dari bahan alami atau bio vetsin dibandingkan dengan penyedap rasa instan. Di Provinsi Kalimantan Barat tepatnya Kabupaten Sintang, daun sengkubak (Pycharrhena cauliflora (Miers.) Diels), tanaman yang termasuk dalam keluarga manispermaceae ini kerap dijadikan bumbu penyedap oleh masyarakat Sintang, Kalimantan Barat secara turun-temurun. Tanaman berdaun lancip ini tumbuh secara liar di ketinggian 100-150 meter, baik di dataran rendah maupun perbukitan.

                Menurut penelitian Melani Setyasi, dkk. pada tahun 2013 Hasil terbaik ekstrak daun sansakng atau sengkubak dari uji organoleptik terbaik diperoleh pada konsentrasi 1% dengan metode infudasi yang  dilakukan pada suhu 900C selama 15 menit. Hasil organoleptik produk bubuk terbaik diperoleh pada konsentrasi bobot sebesar 0,25%. Hasil ini menunjukkan bahwa konsentrasi produk bubuk sebesar 0,25% merupakan konsentrasi yang paling disukai panelis (Setyiasi, dkk., 2013). Pada penelitian Rizka (2015) dibuktikan bahwa Daun Sengkubak (Pycharrhena cauliflora (Miers.) Diels)  mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, triterpenoid atau steroid, tanin, dan fenol (Pamuji, 2015).

                Masyarakat Sintang mengolah daun sengkubak (Pycharrhena cauliflora (Miers.) Diels) menjadi penyedap rasa dengan cara menumbuk daun yang segar bersamaan dengan sayuran  yang kemudian dimasak, sedangkan untuk penggunaan dalam waktu lama daun ditumbuk atau dipotong kecil-kecil atau diiris tipis-tipis kemudian dikering anginkan dan disimpan dalam wadah tertutup. Digunakan pada waktu memasak sebelum olahan masak (Juita, dkk., 2015). Penggunaan daun sengkubak dapat dijadikan alternatif pengganti MSG sebagai penyedap rasa alami, namun daun ini masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungannya yang berkhasiat sebagai vetsin.

Sumber:

  1. Juita, N., Lovadi, I. and Linda, R. (2015) ‘Pemanfaatan Tumbuhan Sebagai Penyedap Rasa Alami Pada Masyarakat Suku Dayak Jangkang Tanjung Dan Melayu Di Kabupaten Sanggau’, Jurnal Protobiont, 4(3), pp. 74–80.
  2. PAMUJI, R. W. (2015) ‘UJI TOKSISITAS AKUTEKSTRAK ETANOL DAUN SENGKUBAK (PycnarrhenacaulifloraDiels) TERHADAP TIKUSBETINA GALUR WISTAR DENGAN METODE OECD 425’, pp. 1–13. Available at: https://media.neliti.com/media/publications/192926-ID-none.pdf.
  3. Setyiasi, M., Ardiningsih, P. and Nofiani, R. (2013) ‘ANALISIS ORGANOLEPTIK PRODUK BUBUK    PENYEDAP RASA ALAMI DARI EKSTRAK DAUN SANSAKNG ( Pycnarrhena cauliflora Diels)’, JKK, 2(1), pp. 65–69.
  4. Eka, W.,Sirajuddin, S. and Zakaria. (2014) ‘ANALISIS KANDUNGAN MONOSADIUM GLUTAMAT (MSG) PADA PANGAN JAJANAN ANAK DI SD KOMP. LARIANGBANGI MAKASSAR [makalah]. Makassar: FKM Universitas Hasanuddin.
Tanaman Bajakah, Ada Apakah?

Tanaman Bajakah, Ada Apakah?

Beberapa pekan lalu kita di kagumkan dengan prestasi adik-adik siswi di salah satu SMA 2 Palangkaraya di Kalimantan Tengah (Kalteng) banyak diliput oleh Media. Mereka adalah Yazid, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharan. Dua diantaranya berhasil mendapatkan medali emas dalam kejuaraan tingkat dunia yaitu lomba ilmiah internasional World Invention Creativity Olympic (WICO) 2019 di Korea Selatan.

Ringkasnya dalam liputan tersebut, reporter kompas TV (Aiman Wicaksono) diajak untuk bertemu dengan dosen dan menjelaskan bagaimana proses penelitian terhadap tikus yang dijadikan hewan uji untuk penelitian tersebut. kemudian beliau (dosen) yang diajak kerjasama dalam penelitian ini banyak menjelaskan kandungan didalam tanaman Bajakah ini, diantaranya adalah Flavonoid, saponin dan steroid. Akan tetapi tidak menjelaskan secara spesifik kandungan dan mekanismenya secara detail. Ketika di ceri internet tentang penelitian tanaman Bajakah memang belum banyak ditemukan penelitian lebih lanjut, sepertihalnya kunyit, jahe dan lain sebagaimanya.

Hasil pencarian di mesin google.com dan scholar (15/08/19) :

Terlihat memang belum banyak penelitian tentang tanaman tersebut, jika menyaksikan liputan tersebut maka kita akan mengetahui bahwa tanaman Bajakah adalah tanaman endemik khas kalimantan tengah. dan banyak digunakan oleh masyarakat untuk pengobatan tradisional. Maka tak heran kini banyak orang yang mencari tanaman tersebut.

Tahukah kamu Tanaman Pasak Bumi? yang sempat di klaim sebagai tanaman khas malaysia dengan sebutan Tongkat Ali, ya itu adalah tanaman khas kalimantan juga yang banyak digunakan untuk pengobatan kejantanan pria. Sebenarnya bagaimana sih kita bisa menyimpulkan bahwa tanaman tersebut memiliki khasiat tertentu? Sebetulnya ada banyak tahapan yang harus dilalui. Mulai dari bagaimana mendapatkan senyawa nya dengan cara di ekstraksi dari tanaman kemudian dilakukan identifikasi standarisasi, uji pre klinik, ekstraksi ditujukan untuk mendapatkan senyawa aktif yang diinginkan sampai dengan isolasi, lalu dilanjutkan dengan pengujian terhadap efektifitas (penyembuhan kanker), ketoksikan atau keamanan kepada hewah percobaan (uji pre klinik) dilanjutkan formulasi penyetaraan antara dosis dari hewan ke manusia dan uji klinik. Uji klinik kepada manusia dari uji klinik 1, 2, 3 dan 4. Barulah bagaimana sebuah tanaman tersebut mampu untuk dipasarkan untuk penyembuhan penyakit. Terlalu dini jika menyimpulkan bahwa tanaman Bajakah mampu mengobati kanker akan tetapi bisa jadi secara empiris memang digunakan oleh masyarakat setempat untuk mengobati berbagai penyakit karena kandungannya yang melimpah.

Mengutip sebuah pernyataan Prof Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), MPH (Prof Iko, sapaan beliau di DetikHealth) :

“Proses dari akar bajakah sampai menjadi single compound itu panjang sekali. Bisa sampai 20-25 tahun,” sebut Wakil Direktur Medical Education Research Insitute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Demikianlah memerlukan perjalanan yang cukup panjang jika tanaman Bajakah akan disampai di peroleh obat untuk kanker tidak semudah membalikan telapak tangan, perlu penelitian lebih lanjut seperti yang diuraikan diatas tadi. Banyak hal yang harus di fikirkan juga bagaimana budidaya atau kelangsungan hidup dari tanaman ini jika terjadi eksplorasi besar-besaran, mengingat tanaman ini endemik di pulau kalimantan sehingga sangat dimungkinkan hanya dapat tumbuh di pulau tersebut dan jika tumbuh ditempat lain bisa dipastikan khiatnya juga berbeda. Maka jangan sampai ketika memanfaatkan tanaman secara besar besaran (eksploitasi) justru membuat tanaman ini jadi langka atau bahkan kepunahan.

Referensi :

Detik Health (https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4667138/kalau-tak-jadi-obat-bisakah-akar-bajakah-dipatenkan-sebagai-jamu)

Google.com / Google Scholar

Kompas TV

[BAGIAN KETIGA] Tips Mengkonsumsi Jamu

[BAGIAN KETIGA] Tips Mengkonsumsi Jamu

Perhatikan Hal Berikut Sebelum Anda Mengonsumsi Jamu (Bagian 3)
Oleh: Tim Artikel Carijamu

Teman-teman masih ingat apa saja 3 aspek penting yang sudah dibahas di bagian sebelumnya bagian ke satu dan bagian ke dua maka sangat perlu diperhatikan ketika ingin mengonsumsi jamu? Yap benar, 3 aspek itu adalah ketepatan waktu penggunaan, ketepatan dosis, dan ketepatan cara penggunaan. Di tulisan ini, akan dibahas lagi aspk penting lainnya, yaitu ketepatan pemilihan bahan secara benar dan ketepatan pemilihan tumbuhan obat atau ramuan obat untuk indikasi tertentu. Yuk simak pembahasannya!

1. Ketepatan Pemilihan Bahan secara Benar
Indonesia adalah negeri yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat melimpah dan beragam, termasuk banyaknya spesies tumbuhan obat. Terkadang, banyaknya spesies tumbuhan obat membuat sulit untuk membedakan satu dengan yang lainnya, terutama yang memiliki kemiripan morfologi. Padahal, kebenaran bahan tumbuhan yang dipilih dalam obat tradisional akan menentukan tercapai atau tidaknya efek terapi yang diingikan.

Sebagai contoh, tumbuhan lempuyang memiliki beberapa ragam yang agak sulit dibedakan satu dengan yang lainnya. Lempuyang emprit (Zingiber americans) memiliki bentuk relatif lebih kecil, berwarna kuning dengan rasa yang pahit. Lempuyang emprit ini secara empiris dimanfaatkan sebagai penambah nafsu makan. Jenis yang kedua adalah lempuyang gajah (Zingiber zerumbet) yang memiliki ukuran rhizoma paling besar dan warna kuning tetapi pucat. Secara tradisional, pemanfaatan lempuyang gajah ini lebih luas, selain sebagai penambah nafsu makan juga dimanfaatkan sebagai obat sakit kepala, pembengkakan, flu, dan mual muntah. Jenis yang terakhir adalah lempuyang wangi (Zingiber aromaticum) yang memiliki warna putih dan aroma yang lebih harum daripada dua jenis lempuyang lainnya. Tidak seperti kedua jenis lempuyang lainnya, lempuyang wangi ini justru dimanfaatkan sebagai ramuan pelangsing. Jika tidak cermat dalam memilih bahan, bisa terjadi kesalahan yang sangat fatal. Tujuan awal ingin melangsingkan tubuh dengan menggunakan lempuyang wangi, namun nafsu makan malah meningkat karena yang digunakan adalah lempuyang emprit atau lempuyang gajah. Kerancuan serupa juga sering terjadi antara tumbuhan ngokilo yang dianggap sama dengan keji beling, daun sambung nyawa dengan daun dewa.

2.Ketepatan Pemilihan Tumbuhan Obat untuk Indikasi Tertentu

Keunikan dari tumbuhan obat adalah dalam satu tumbuhan terdapat banyak senyawa aktif dan masing-masing senyawa aktif tersebut memiliki efek klinis yang berbeda. Selain pertimbangan manfaat, perlu juga dipertimbangkan terkait kemungkinan efek lain yang bisa menjadi kontraproduktif terhadap tujuan terapi dengan indikasi tertentu.

Sebagai contoh kasusnya adalah alkaloid dalam daun tapak dara (Vinca rosea) yang berpotensi dikembangkan sebagai obat diabetes. Alkaloid dalam daun tapak dara itu disebut vinkristin dan vinblastin yang mengakibatkan menurunnya leukosit (sel darah putih) hingga mencapai ±30%. Efek ini menyebabkan seseorang yang mengonsumsi daun tapak dara menjadi rentan terhadap penyakit infeksi, karena sel darah putih yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai ancaman infeksi jumlahnya berkurang cukup drastis. Padahal, tata laksana terapi diabetes membutuhkan waktu yang lama, sehingga daun tapak dara ini tidak cocok untuk dikembangkan sebagai obat diabetes, karena akan memberi resiko buruk bagi penderita diabetes. Oleh karena itu, kandungan vinkristin dan vinblastin dalam daun tapak dara ini lebih diarahkan sebagai terapi untuk kanker darah (leukimia).

Contoh lainnya adalah pada tumbuhan pare (Momordica charantia). Tumbuhan yang sering dijadikan lalapan ini mengandung alfa-momorkorin, beta momorkorin, dan momordica antiviral protein-30 (MAP-30) yang bermanfaat sebagai anti HIV/AIDS. Akan tetapi, pare juga mengandung mengandung triterpenoid yang mempunyai aktivitas antispermatozoa, sehingga konsumsi pare dalam jangka panjang dapat mematikan sperma, memicu impotensi, merusak buah zakar dan hormon seks pada pria. Dari kedua contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa perlunya pertimbangan yang matang saat memilih tumbuhan obat untuk dijadikan terapi pada indikasi tertentu.

Referensi:
Basch, E., Gabardi, S., Ulbricht, C, 2003, Bitter melon (Momordica charantia): a review of efficacy and safety, Journal of American Medical Association, 294(18): 2342-2351.

Grover, J.K., Yadav, S. P, 2004, Pharmacological actions and potential uses of Momordica charantia: a review, Journal of Ethnopharmacol, 93(1): 123-132.

Wu, M.L., Deng, J. F., Wu, J. C., Fan, F. S., Yang, C. F, 2004, Severe bone marrow depression induced by anticancer herb, J Toxicol Clin, 42(5): 667-671.

Tips Membungkus Daging Kurban

Tips Membungkus Daging Kurban

Selamat hari raya idul adha 1440 Hijirah bagi #SobatJamu yang merayakan. #SobatJamu tahukah kamu kalau penyimpanan hewan kurban memelukan penangan yang tepat agar daging yang didapatkan aman untuk dikonsumsi. Bagaimana ya tipsnya? yuk simak dibawah ini

Pertama : Menjaga kebersihan

Setuju ya kalau menjaga kebersihan adalah tugas kita bersama, mengemas daging juga sangat penting untuk menghindari dari cemaran baik itu fisik, kmia atau mikrobiologi.

Kedua : Tidak menggunakan kresek hitam

Kresek hitam merupakan plastik hasil daur ulang dan terbuat dari bahan kimia yang berbahaya untuk kesehatan.

Ketiga : Gunakan wadah ramah lingkungan

Contoh wadahnya : daun pisang, besek bambu dan daun kelapa, cuci dan bersihkan dahulu wadah sebelum digunakan.

Keempat : membawa wadah sendiri

Gunakan wadah makanan (food grade) untuk mengurangi cemaran lingkungan dan plastik atau kresek bekas yang digunakan.