Kelas Jamu Solo Resmi Bergabung Dengan Carijamu

Kelas Jamu Solo Resmi Bergabung Dengan Carijamu

Kelas Jamu Solo Resmi Bergabung Dengan Carijamu

Karang Anyar, (11/19) bertempat di kantor Omah Djamoe Arroyyan, Tim Carijamu.com yang di wakili langsung oleh Rudi Afrinanda, Derajad Rahman Mu’allih Hakim dan Candra Hibatul Wafi datang yang disambut oleh Tim dari Kelas Jamu Solo diantaranya Ibu Indri Kusuma Dewi, M.Sc., Apt selaku dosen D3 Jamu Poltekkes Kemenkes Surakarta sekaligus Founder/Penasehat Kelas Jamu Solo, serta Mbak Anisa dan Mbak Septi. Tim carijamu setibanya di tempat langsung mendiskusikan terkait kemungkinan kerjasama kedepan untuk mendapatkan tujuan bersama yakni mengedukasi masyarakat tentang Herbal Jamu.

Setelah pajang lebar menjelaskan tujuan dan arah gerak dari platform carijamu dan mendengarkan juga pemaparan tentang pelaksaan kelas jamu solo yang sudah berjalan sekitar dua bulan maka kedua belah pihak bersepakat untuk menggabungkan (merger) kelas jamu solo kedalam platform carijamu dengan nama baru yakni KELAS CARIJAMU.

Sebuah kesempatan dan rencana sekaligus tanggung jawab besar kedepannya carijamu dapat bekerja sama dengan Kelas Jamu di Solo yang sekarang menjadi satu kesatuan dengan carijamu. Kedepan kita harapkan akan banyak terjadi inovasi-inovasi sekaligus tujuan besar untuk terus menyehatkan masyarakat Indonesia dengan edukasi herbal jamu.

Kelas Jamu Solo sendiri adalah komunitas yang bergerak di bidang jamu tradisional dengan memberikan pelatihan, workshop, seminar dan edukasi kepada masyarakat. Dan ini juga sejalan dengan carijamu yang memiliki visi misi yakni mengedukasi masyarakat dengan sentuhan teknologi sehingga tujuan bersama untuk #KerenkanJamuIndonesia akan tercapai. Kedepan diharapkan akan banyak hadir kelas-kelas serupa di kota-kota lain di Indonesia.

Pada kesempatan tersebut juga disepakati untuk nota kesepahaman kerjasama antar kedua belahpihak agar kedepan bisa berjalan dengan lancar.

Bukti Sejuta Manfaat Buah Pisang

Bukti Sejuta Manfaat Buah Pisang

Bukti Sejuta Manfaat Buah Pisang

Buah pisang sering sekali ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya di Indonesia, pisang menjadi salah satu buah yang paling menarik di dunia. Iklim Indonesia yang tropis menyebabkan buah pisang sangat cocok tumbuh di Indonesia dengan jumlah yang sangat melimpah.

Banyak macam manfaat yang diperoleh dari buah melengkung ini. Pisang telah dikenal kaya akan karbohidrat, serat makanan, vitamin dan mineral tertentu, dan juga kandungan lain yang bermanfaat bagi kesehatan. Daging buah maupun kulit buah pisang telah terbukti secara ilmiah ditemukan banyak senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Berikut berbagai manfaat dari buah pisang:

  1. Sebagai antioksidan

Buah pisang mengandung asam fenolat sebagai senyawa bioaktif utama yang memiliki sifat sebagai antioksidan. Bagian kulit buah pisang juga kaya akan banyak senyawa antioksidan, seperti anthocyanin, delphinidin, dan cyanidins. Sifat antioksidan dari senyawa-senyawa tersebut dapat bermanfaat dalam berbagai penyakit karena dapat memberikan perlindungan dari radikal bebas. Selain itu, antioksidan juga bermanfaat untuk mencegah penyakit degeneratif, seperti alzheimer, parkinson, kanker dan penyakit kardiovaskular (Sidhu et al., 2018 dan Falcomer et al., 2019).

  1. Meningkatkan kekebalan tubuh

Daging buah pisang yang berwarna kuning dan orange terbukti mengandung trans-β karoten yang berkhasiat untuk meningkatkan kekebalan dan mengurangi risiko berbagai penyakit, seperti kanker, diabetes tipe II, dan berbagai penyakit jantung (Sidhu et al., 2018).

  1. Meningkatkan kecerdasan

Pisang mengandung fosfor dalam jumlah yang cukup, yang bermanfaat dalam perkembangan otak dan kemampuan akal, seperti kecerdasan, berpikir dan menghafal (Rochmah dan Fasitasari, 2014).

  1. Mencegah kanker prostat

Kandungan Lycopene dalam buah pisang bermanfaat bagi kalangan pria karena dapat memberikan perlindungan terhadap kanker prostat (Sidhu et al., 2018).

  1. Menjaga kesehatan mata

Kandungan α-karoten, β-karoten, dan β-cryptoxanthin dalam daging buah pisang bertindak sebagai sebagai provitamin A yang mampu mengatasi kekurangan vitamin A dan menjaga kesehatan mata (Sidhu et al., 2018).

  1. Membantu mengobati penyakit lambung

Leucocyanidin, senyawa flavonoid yang menunjukkan aktivitas yang sangat besar dalam pengobatan kondisi penyakit lambung. Selain itu, flavonoid ini juga menunjukkan aktivitas antitumor dan mencegah pernyebaran sel kanker (Sidhu et al., 2018).

  1. Membantu menurunkan kadar gula darah

Kandungan pati resisten dalam buah pisang terbukti tidak pecah dalam saluran pencernaan sehingga dapat berperan sebagai serat sekaligus menurunkan gula darah dan dapat membantu mencegah dan mengobati penyakit diabetes tipe 2 (Falcomer et al., 2019).

  1. Membantu menurunkan kadar kolesterol

Buah pisang mengandung phytosterol yang berkhasiat untuk menurunkan kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) pada penderita kolesterol tinggi (Sidhu et al., 2018).

  1. Membantu menurunkan tekanan darah

Kandungan mineral yang unggul dalam buah pisang adalah kalium, yakni berkisar 440 mg. Kalium bermanfaat untuk menjaga keseimbangan air dalam tubuh, sehingga membantu mengontrol dan menurunkan tekanan darah yang tinggi (Arifki et al., 2018).

  1. Sebagai antibakteri

Kandungan keton dalam getah pisang bermanfaat sebagai antibiotik alami (Arifki et al., 2018).

  1. Mengobati luka secara alami

Dengan menggunakan getah pisang yang mengandung zat lignin dapat membantu mempercepat penyembuhan luka (Arifki et al., 2018).

  1. Membantu mengobati radang mulut dan gusi

Pisang juga bermanfaat untuk radang mulut dan gusi, karena mengandung flouride sebagai zat pensteril (Rochmah dan Fasitasari, 2014).

  1. Memperkuat gigi

Kandungan vitamin D dalam pisang berguna untuk memperkuat gigi (Rochmah dan Fasitasari, 2014).

  1. Membantu mengobati anemia

Pisang mengandung zat besi dan vitamin D sehingga berguna dalam pencegahan dan pengobatan anemia serta kekurangan zat besi. Vitamin D dapat membantu penyerapan zat besi dalam usus menjadi lebih mudah (Rochmah dan Fasitasari, 2014).

  1. Mengurangi depresi

Pisang juga mengandung hormon-hormon yang berfungsi untuk mengatur aktifitas saraf. Hal ini dikarenakan pisang mengandung dopamin sebagai neurotransmitter dalam otak manusia yang memiliki pengaruh kuat pada suasana hati dan stabilitas emosional. Selain itu, kandungan serotonin dalam pisang juga akan berpengaruh dalam menciptakan perasaan bahagia (Sidhu et al., 2018 dan Falcomer et al., 2019).

  1. Mencegah penyakit saraf

Kulit pisang mengandung asam amino, triptofan yang berperan dalam penecagan penyakit saraf, seperti parkinson (Sidhu et al., 2018).

Begitu banyak manfaat kesehatan yang telah terbukti secara ilmiah dari buah pisang. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi untuk mengkonsumsi buah pisang agar memperoleh berbagai manfaatnya bagi kesehatan tubuh kita.

Referensi:

Arifki, Hisban H., Barliana, Melisa I., 2018, Karakteristik dan Manfaar Tumbuhan Pisang, Farmaka, Vol. 16 No. 3, Pages: 196-203.

Falcomer, Ana L., Riquette, Roberta F. R., De Lima, Bernardo R., Ginani, Verônica C., Zandonadi, Renata P., 2019, Health benefits of green banana consumption: A systematic review, Nutrients, Vol. 11, Issue 6, Pages: 1-22.

Rochmah, Yuyun S., Fasitasari, Minidian., 2014, Pengaruh Penyuluhan Terhadap Perubahan Pengetahuan Bagi Ibu-Ibu Pkk Kelurahan Penggaron Lor Tentang Pemanfaatan Tanaman Pisang Sebagai Media Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut, Odonto Dental Journal, Volume 1, Nomor 2, Desember 2014.

Sidhu, Jiwan S., Zafar, Tasleem A., 2018, Bioactive compounds in banana fruits and their health benefits, Food Quality and Safety, Vol. 2, Issue 4, Pages: 183-188.

 

Talkshow : Memahami Obat Herbal Dari Sudut Pandang Farmakologi

Talkshow : Memahami Obat Herbal Dari Sudut Pandang Farmakologi

Halo #SobatJamu !
Taukah kamu kalau herbal itu kaya akan manfaat untuk kesehatan, mau pernah konsumsi herbal? Atau kamu kepo tentang bagaimana sih obat herbal itu bekerja dalam tubuh kita?

Jangan bingung, akan ada Talkshow yang akan menjawab itu semua. Bersama :

Apoteker Fahmi H Abdillah
Di siaran ON AIR Radio Yess 104.2 Cilacap
Selasa, 5 November 2019
(11.00-12.00 WIB)

Dengan tema : “Memahami Obat Herbal dari Sudut Pandang Farmakologi”

Info lanjut :
IG : http://instagram.com/carijamu
FB : http://facebook.com/carijamu
Twitter : http://twitter.com/carijamu
E-mail : info@carijamu.com
Website : www.carijamu.com

#KerenkanJamuIndonesia #SehatKarenaJamu #CariJamu #Talkshow #Herbal #Farmakologi

 

Acara ini terselenggara atas :

Tembakau Sebagai Pestisida Nabati

Tembakau Sebagai Pestisida Nabati

Tembakau Sebagai Pestisida Nabati

Oleh :  Tim Artikel Carijamu

            Penggunaan pestisida yang tidak memenuhi aturan akan mengakibatkan banyak dampak, diantaranya dampak kesehatan bagi manusia yaitu meningkatnya risiko keguguran, kemandulan dan pada ibu hamil dapat menyebabkan bayi cacat lahir. Paparan pestisida pada anak, dapat menurunkan stamina tubuh, menurunkan tingkat kecerdasan dan konsentrasinya. Racun kimia yang terbuat dari klorine dapat menyebabkan kanker payudara (Silowati, 2015). Selain itu pestisida kimia juga memiliki harga yang tergolong mahal. Oleh sebab itu Pentingnya pengembangan pestisida nabati memiliki beberapa kelebihan antara lain ramah lingkungan, murah dan mudah didapat, tidak meracuni tanaman, tidak menimbulkan resistensi hama, mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman, kompatibel digabung dengan pengendalian lain dan menghasilkan produk pertanian yang bebas residu pestisida. Mekanisme kerja pestisida nabati tidak hanya menumpukan pada tingkat kematian semata tetapi juga berfungsi sebagai anti feedant dan repelant.

Di indonesa sangat banyak keragaman sumber daya alam (biodiversitas) tumbuhan seperti bandotan, sirih hutan, brotowali, temulawak, biji mahkota dewa, serai, daun sirsak, daun mimba, tembakau, biji bengkuang, cengkeh, bawang putih, daun kecubung, lada dan daun sirih (Asmaliyah dkk., 2010; Irfan, 2010; Prosiana dkk., 2014; Wahyono dan Rachmat 2014) sebagai sumber pestisida nabati, masih belum banyak dimanfaatkan secara maksimal padahal potensinya cukup besar. Pada artikel ini kita akan terkhusus pada tumbuhan tembakau yang bermanfaat sebagai pestisida nabati. Pada tumbuhan tembakau terdapat suatu senyawa yang berkhasiat sebagai pestisida yaitu Saponin. Saponin adalah senyawa pengaktif permukaan dan dapat menimbulkan busa bila dikocok dengan air. Beberapa saponin bersifat sebagai antimikroba. Saponin berasa pahit, dalam larutan air membentuk busa, dapat menghemolisis eritrosit, merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi (Asmaliyah dkk., 2010 dan Prosiana dkk., 2014). Data-data tersebut diperkuat dengan peneliian-penelitian yang sudah dilakukan oleh beberapa ahli.

Dari banyaknya manfaat pestisida nabati yang dipaparkan diatas, maka mulai dari sekarang kita harus menggantikan pestisida kimia dengan pestisida nabati tersebut yaitu salah satunya adalah dengan menggunakan tumbuhan tembakau.

Referensi :

Asmaliyah, Wati H. E. E., Utami S, Mulyadi K, Yudistira dan F. W Sari. 2010. Pengenalan Tumbuhan Penghasil Pestisida Nabati dan Pemanfaatannya Secara Tradisional. Kemenhut. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Produktifitas Hutan.

Promosiana A, Indartiyah N, Tahir M, Watini L, Hartono B, Martha D, Tobing P.L, Hermami A dan J. Waludin. 2014. Tanaman Biofarmaka sebagai Biopestisida.

Silowati. 2015. Dampak Pestisida terhadap Reproduksi Kesehatan Wanita. Bapelkes Cikarang.

Kapan Mulai Menggunakan Anti Aging ?

Kapan Mulai Menggunakan Anti Aging ?

Kapan Mulai Menggunakan Anti Aging ?

Oleh : Tim Artikel Carijamu.com

Proses penuaan merupakan proses alami yang akan dialami setiap orang. Tidak semua orang mengalami penuaan kulit sesuai dengan usianya, inilah yang disebut penuaan dini.  Bisa lebih cepat atau lebih lambat bila dibandingkan dengan orang lain. Penuaan dini bisa terjadi pada siapa saja. Terutama di Indonesia yang merupakan daerah beriklim tropis dengan sinar matahari berlimpah. Proses degeneratif kulit yang terlalu sering terpapar sinar ultraviolet berlangsung lebih cepat.

Paparan sinar matahari yang berlebihan merupakan salah satu faktor penyebab menurunnya produksi kolagen dalam dermis kulit, karena paparan sinar matahari yang berlebih menyebabkan munculnya enzim proteolisis dari radikal bebas yang terbentuk. Enzim inilah yang selanjutnya akan merusak kulit, menghancurkan kolagen, dan jaringan penghubung yang ada di bawah kulit dermis.

Normalnya, proses penuaan (aging) terjadi pada usia 20-an, namun biasanya belum memunculkan tanda-tanda penuaan pada kulit khususnya wajah. Hal ini terjadi karena kulit masih mampu menyeimbangkan dan menghambat proses-proses penuaan dengan membentuk sel-sel baru. Memasuki usia 30, kulit akan semakin berkurang kemampuannya dalam memproduksi sel-sel baru. Sehingga, proses penuaan itu tidak bisa dihambat lagi.

Adapun  tanda-tanda penuaan pada wajah meliputi :

  • Kulit terlihat kering dan tipis.
  • Muncul garis-garis atau kerutan halus pada kulit.
  • Muncul pigmentasi kulit (age spot).
  • Kulit terlihat tidak kencang.
  • Kulita terlihat kusam dan tidak segar.

Ketakutan akan tampilan kulit yang keriput, membuat wanita yang masih berumur 20-an menggunakan krim anti aging. Lantas, sejak umur berapakah wanita disarankan mulai menggunakan krim anti aging ?

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Atmaja dkk. (2012) menerangkan bahwa penggunaan anti aging yang efektif untuk menigkatkan kualitas kondisi wajah, memperhalus dan mengencangkan tekstur, serta mengurangi kerutan wajah antara usia 25-29 tahun dan usia 30 tahun ke atas. Namun dalam perubahan kerutan, kosmetika anti aging wajah sangat efektif berefek pada usia 30 keatas, dikarenakan pada di usia lebih dari 30 tahun kerutan pada wajah terlihat sangat jelas. Maka dari itu, sangat disarankan untuk menggunakan kosmetika anti aging di usia ini. Hal ini dibuktikan dengan adanya perubahan kulit setelah menggunakan kosmetika anti aging selama 1 bulan pada kelompok eksperimen. Di mana hasil berupa terjadinya perubahan pada tesktur kulit wajah menjadi lebih halus dan kencang, kerutan di wajah berkurang dan noda-noda gelap dapat tersamarkan.

Dr. Eddy Karta, SpKK, dokter spesialis kulit menyarankan agar melakukan perawatan kulit sedini mungkin agar efek penuaan dini bisa dicegah atau minimal diperlambat. Perawatan ini bisa dilakukan dengan cara rutin menggunakan produk-produk perawatan kulit yang dapat memperlambat timbulnya tanda-tanda penuaan pada kulit. Bahan-bahan anti aging yang sudah terbukti secara klinis bermanfaat positif, aman, dan baik bagi kulit adalah retinol, alpha hidroxy acids, peptida, dan antioksidan seperti vitamin C dan teh hijau.

Referensi :

  1. Muliyawan, D. dan Suriana, N. 2013. A-Z Tentang Kosmetik. Jakarta : Elex Media Komputindo.
  2. Atmaja, N. S., Marwiyah, Setyowati, E. 2012. Pengaruh Kosmetika Anti Aging wajah Terhadap Hasil Perawatan Kulit Wajah. Journal of Beauty and Beauty Health Education1 (1) : 8-9.
RABIES : Tekan Kasusnya, Cegah Penularannya

RABIES : Tekan Kasusnya, Cegah Penularannya

RABIES : Tekan Kasusnya, Cegah Penularannya

Oleh : Tim Artikel Carijamu

Rabies atau penyakit anjing gila merupakan penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat (otak) disebabkan oleh virus rabies. Rabies ditularkan kepada manusia melalui pajanan atau gigitan hewan sehingga termasuk ke dalam kelompok penyakit zoonosa (zoonosis) yaitu penyakit yang ditularkan oleh hewan ke manusia. Rabies tidak dapat langsung disimpulkan bahwa disebabkan oleh pajanan atau gigitan semua hewan. Namun hanya beberapa hewan yang sudah terbukti secara penelitian yang dapat menyebabkan rabies, misalnya seperti anjing, kera, musang, anjing liar, dan kucing.

Di Indonesia kasus rabies muncul pertama kali sekitar tahun 1884 dan prevalensi kejadiannya kian meningkat dari tahun ke tahun. Selama periode 2011 hingga 2017, ada lebih 500.000 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang dilaporkan di Indonesia dan sebanyak 836 kasus positif rabies. Kawasan Asia dan Afrika menjadi kontributor terbesar kasus rabies hingga mencapai 95% (Depkes, 2018). Di Indonesia hewan penular utama yaitu anjing sebesar 98%, monyet dan kucing sebesar 2% (Infodatin rabies, 2016). Infeksi  rabies baik pada hewan maupun pada manusia yang telah menunjukkan gejala dan tanda klinis rabies pada otak (Encephalomyelitis) berakhir dengan kematian. Hanya terdapat 1 (satu) penderita yang hidup di dunia.

Dengan tema dari peringatan World Rabies Day (WRD) atau Hari Rabies Sedunia tahun 2019 yaitu Vaccinate to eliminate, masya­rakat internasional di­dorong untuk mem­vaksin hewan peli­haraan­nya guna menekan terjadi­nya kasus rabies. Di Indonesia kasus rabies cukup menjadi sorotan dari semua elemen baik negara (Kementrian Kesehatan RI) maupun masyarakat umum. Penatalaksanaan dan pencegahan kasus rabies sudah banyak digencarkan oleh Kementrian Kesehatan RI melalui infodatin (salah satu bentuk  produk informasi publik dalam bentuk newsletter) dan berbagai media lainnya.

Dikutip dari infodatin rabies tahun 2016 tentang tatalaksana Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) adalah sebagai berikut :

  1. Pencucian luka

Pencucian luka merupakan langkah pertama yang sangat penting. Luka gigitan dicuci        dengan air mengalir dan sabun/deterjen selama 10-15 menit.

  1. Pemberian Antiseptik

Pemberian antiseptik (alkohol 70%, betadine, obat merah, dll) dapat diberikan setelah pencucian luka.

  1. Tindakan penunjang

Luka karena Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) tidak boleh dijahit untuk mengurangi invasi atau masuknya virus pada jaringan luka, kecuali luka yang lebar dan dalam yang terus menerus mengeluarkan darah, dapat dilakukan jahitan (untuk menghentikan perdarahan). Sebelum dilakukan penjahitan luka, harus dibeikan suntikan infiltrasi Serum Anti Rabies (SAR) sebanyak mungkin disekitar luka.

Dikutip dari infodatin rabies tahun 2014 tentang pencegahan rabies adalah sebagai berikut:

  1. Pemeliharaan hewan piaraan dilaksanakan penuh rasa tanggung jawab dan memperhatikan kesejahteraan hewan, jangan diliarkan atau diumbar keluar pekarangan rumah tanpa pengawasan dan kendali ikatan.
  2. Berikan vaksinasi anti rabies pada hewan peliharaan anda secara berkala di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), dinas kesehatan hewan atau dinas peternakan, atau ke dokter hewan.
  3. Segera melapor ke puskesmas/rumah sakit terdekat apabila digigit oleh hewan tersangka rabies untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) sesuai indikasi.
  4. Apabila melihat binatang dengan gejala rabies, segera laporkan kpada Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), dinas peternakan/ yang membawahi bidang peternakan atau dinas kesehatan hewan.

Rabies dapat dikatakan penyakit yang fatal dan sangat mematikan. Untuk itu diperlukan perhatian khusus terhadap pencegahan dan penanganannya. Dengan memberikan vaksinasi terhadap hewan peliharaan merupakan salah satu langkah preventif (pencegahan) terhadap penularan rabies di dunia.

Referensi :

  1. Departemen Kesehatan RI. 2018. Rabies Penyaki Paling Mematikan di Dunia.                           http://www.depkes.go.id/article/view/18100300005/rabies-penyakit-paling-mematikan-di-dunia.html. (Diakses 25 September 2019)
  2. Kementerian kesehatan RI. INFODATIN Pusat Data dan Informasi Kemeterian                         Kesehatan RI Rabies. 2014.
  3. Kementerian kesehatan RI. INFODATIN Pusat Data dan Informasi Kemeterian                            Kesehatan RI Rabies. 2016.