SENGKUBAK: Vetsin alami dari Kalimantan Barat

SENGKUBAK: Vetsin alami dari Kalimantan Barat

SENGKUBAK: Vetsin alami dari Kalimantan Barat
Oleh : Tim Artikel Carijamu

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki ragam budaya seperti tarian daerah, upacara adat, ragam kesenian, pakaian tradisional, hingga kuliner. Kuliner Indonesia merupakan salah satu hal yang sangat terkenal bahkan sampai ke mancanegara, diantaranya yaitu rendang, sate, dan nasi goreng. Kekayaan rempah yang dimiliki oleh Indonesia membuat masakan Indonesia memiliki cita rasa yang khas. Salah satu bahan masakan yang selalu hadir ialah penyedap rasa, seperti garam, gula, lada, dan lainnya, namun tidak jarang pula masyarakat Indonesia menggunakan penyedap rasa instan seperti beberapa merk terkenal yang mayoritas mengandung vetsin atau MSG (Monosodium glutamate).

                Berdasarkan laporan Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) menyebutkan secara umum vetsin atau Monosodium glutamate (MSG) aman dikonsumsi, tetapi terdapat dua kelompok yang menunjukkan reaksi akibat konsumsi MSG ini. Pertama adalah kelompok orang yang sensitif terhadap MSG yang berakibat muncul keluhan berupa rasa panas di leher, lengan dan dada, diikuti kaku pada otot dari daerah tersebut menyebar sampai ke punggung. Adapun Gejala lain berupa rasa panas dan kaku di wajah diikuti nyeri dada, sakit kepala, mual, berdebar-debar dan terkadang sampai muntah. Gejala ini mirip dengan Chinese Restaurant Syndrome, tetapi kemudian lebih tepat disebut MSG Complex Syndrome. Sindrom ini terjadi segera atau sekitar 30 menit setelah konsumsi dan bertahan selama sekitar 3-5 jam. Sedangkan kelompok kedua adalah penderita asma, yang banyak mengeluh meningkatnya serangan setelah mengkonsumsi MSG. Munculnya keluhan di kedua kelompok tersebut terutama pada konsumsi sekitar 0,5-2,5 g MSG (Widyalita, dkk., 2014).

                Selain MSG Complex Syndrome, keinginan untuk menjalalankan gaya hidup sehat membuat masyarakat lebih memilih menggunakan penyedap dari bahan alami atau bio vetsin dibandingkan dengan penyedap rasa instan. Di Provinsi Kalimantan Barat tepatnya Kabupaten Sintang, daun sengkubak (Pycharrhena cauliflora (Miers.) Diels), tanaman yang termasuk dalam keluarga manispermaceae ini kerap dijadikan bumbu penyedap oleh masyarakat Sintang, Kalimantan Barat secara turun-temurun. Tanaman berdaun lancip ini tumbuh secara liar di ketinggian 100-150 meter, baik di dataran rendah maupun perbukitan.

                Menurut penelitian Melani Setyasi, dkk. pada tahun 2013 Hasil terbaik ekstrak daun sansakng atau sengkubak dari uji organoleptik terbaik diperoleh pada konsentrasi 1% dengan metode infudasi yang  dilakukan pada suhu 900C selama 15 menit. Hasil organoleptik produk bubuk terbaik diperoleh pada konsentrasi bobot sebesar 0,25%. Hasil ini menunjukkan bahwa konsentrasi produk bubuk sebesar 0,25% merupakan konsentrasi yang paling disukai panelis (Setyiasi, dkk., 2013). Pada penelitian Rizka (2015) dibuktikan bahwa Daun Sengkubak (Pycharrhena cauliflora (Miers.) Diels)  mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, triterpenoid atau steroid, tanin, dan fenol (Pamuji, 2015).

                Masyarakat Sintang mengolah daun sengkubak (Pycharrhena cauliflora (Miers.) Diels) menjadi penyedap rasa dengan cara menumbuk daun yang segar bersamaan dengan sayuran  yang kemudian dimasak, sedangkan untuk penggunaan dalam waktu lama daun ditumbuk atau dipotong kecil-kecil atau diiris tipis-tipis kemudian dikering anginkan dan disimpan dalam wadah tertutup. Digunakan pada waktu memasak sebelum olahan masak (Juita, dkk., 2015). Penggunaan daun sengkubak dapat dijadikan alternatif pengganti MSG sebagai penyedap rasa alami, namun daun ini masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungannya yang berkhasiat sebagai vetsin.

Sumber:

  1. Juita, N., Lovadi, I. and Linda, R. (2015) ‘Pemanfaatan Tumbuhan Sebagai Penyedap Rasa Alami Pada Masyarakat Suku Dayak Jangkang Tanjung Dan Melayu Di Kabupaten Sanggau’, Jurnal Protobiont, 4(3), pp. 74–80.
  2. PAMUJI, R. W. (2015) ‘UJI TOKSISITAS AKUTEKSTRAK ETANOL DAUN SENGKUBAK (PycnarrhenacaulifloraDiels) TERHADAP TIKUSBETINA GALUR WISTAR DENGAN METODE OECD 425’, pp. 1–13. Available at: https://media.neliti.com/media/publications/192926-ID-none.pdf.
  3. Setyiasi, M., Ardiningsih, P. and Nofiani, R. (2013) ‘ANALISIS ORGANOLEPTIK PRODUK BUBUK    PENYEDAP RASA ALAMI DARI EKSTRAK DAUN SANSAKNG ( Pycnarrhena cauliflora Diels)’, JKK, 2(1), pp. 65–69.
  4. Eka, W.,Sirajuddin, S. and Zakaria. (2014) ‘ANALISIS KANDUNGAN MONOSADIUM GLUTAMAT (MSG) PADA PANGAN JAJANAN ANAK DI SD KOMP. LARIANGBANGI MAKASSAR [makalah]. Makassar: FKM Universitas Hasanuddin.
Suplemen Pelansing, Apakah Aman?

Suplemen Pelansing, Apakah Aman?

Suplemen Pelangsing, Apakah Aman?

Oleh : Tim Artikel Carijamu

Di era ini, manusia menanggung banyak tuntutan. Bahkan, tuntutan-tuntutan itu yang mengatur hidup manusia. Pikiran dan tindakan yang kita pilih, tanpa sadar disetir oleh tuntutan, yang lama kelamaan menjadi sebuah konstruksi sosial. Salah satunya adalah bagaimana manusia memikirkan dan memandang tubuhnya dan tubuh manusia lain. Sulit untuk menyangkal, bahwa ganteng dan cantik selalu diasosiasikan dengan tubuh yang langsing. Hal inilah yang mendorong manusia untuk melakukan apapun agar meraih bentuk tubuh yang langsing. Namun, sayangnya, olahraga dan mengatur pola makan sangat membutuhkan disiplin dan konsistensi saat menjalankannya agar memperoleh hasil yang optimal, dan tidak semua orang memiliki ketahanan itu. Lalu, apa yang mereka lakukan jika tidak mampu olahraga dan mengatur pola makan? Jawabnya adalah mengonsumi produk-produk suplemen pelangsing.
Sudah menjadi sifat kebanyakan manusia: ingin menjalankan proses yang paling singkat tetapi mendapat hasil yang optimal. Celah itulah yang dimanfaatkan para perusahaan suplemen untuk memproduksi produk suplemen pelangsing. Iklan yang bombastis sekaligus endors dari para influencer di media sosial dengan kata-kata persuasif membuat banyak produk suplemen pelansing laris manis. Yang menjadi pertanyaan, apakah aman?
Penelitian yang dilakukan oleh Navarro, et al, tahun 2017 berjudul Liver Injury from Herbal and Dietary Supplements menunjukkan resiko yang diakibatkan dari konsumsi berbagai produk suplemen pelangsing. Penelitian prospektif selama 8 tahun tersebut menemukan 130 kasus berkaitan dengan produk suplemen herbal dan pelangsing dengan kejadian hepatotoksik (kerusakan pada hati). Terdapat 45 kasus dihubungkan dengan agen pembentuk tubuh yang mengandung steroid anabolik. Zat tersebut sering digunakan untuk membesarkan otot. Sisanya, sebanyak 85 kasus suplemen herbal pelangsing yang tidak mengandung steroid anabolik. Sebanyak 58 (68%) produk dalam kasus tersebut terdiri dari produk suplemen yang menggunakan multi-ingredient, termasuk diantaranya adalah produk yang cukup terkenal. Empat belas (16%) kasus diakibatkan oleh produk pelangsing yang terdiri dari satu bahan obat, seperti teh hijau, daun kratom, black cohosh). Tujuh (8%) kasus diakibatkan oleh ramuan herbal tradisional (ramuan herbal Cina, ramuan herbal Korea, dan ramuan herbal Ayurvedik). Enam (7%) kasus dihubungkan dengan vitamin sederhana atau mineral (niasin dan levokarnitin).
Penelitian lain dilakukan oleh Manso, et al (2011), dengan menggunakan data dari Spanish Pharmacovigilance Centre dalam rentang tahun 2003-2010. Penelitian ini menerangkan kejadian kerusakan hati akibat konsumsi salah satu produk suplemen pelangsing. Dari 20 laporan yang ditemukan, sebanyak 12 pasien (60%) terdiagnosis mengalami kerusakan hati hingga membutuhkan rawat inap, 9 pasien (53%) mengalami hepatitis, 1 pasien mengalami sirosis hati, dan lainnya sembuh.
Menemukan kausalitas (sebab-akibat) dari kasus tersebut membutuhkan analisis yang rumit, sebab mayoritas produk suplemen pelangsing menggunakan lebih dari satu bahan, baik bahan pokok dan bahan tambahan. Namun, salah satu bahan herbal yang kerap digunakan dalam suplemen pelangsing atau ramuan herbal adalah daun teh hijau (Camelia sinensis). Pasien yang mengalami kerusakan hati dan dicurigai akibat produk suplemen pelangsing yang mengandung ekstrak teh hijau memperlihatkan karakteristik hepatitis akut dalam 1-3 bulan pemakaian produk. Katekin dengan dosis tinggi yang terkandung dalam ektrak daun teh hijau, khususnya epigalokatekin galat (30%-50% terdapat dalam daun teh hijau kering), mempunyai efek hepatotoksik pada tikus uji. Pada umumnya, dosis aman teh hijau pada manusia sekitar < 12 mg/kg sehari. Sebenarnya, penyebab terjadinya kerusakan hati oleh produk suplemen pelangsing ini tidak serta merta akibat efek dari satu bahan saja, tetapi juga bahan-bahan lain yang ditambahkan, seperti penambahan obat-obat sintetik (sildenafil, agen antiinflamasi non-steroid, statin, dan kortikosteroid).
Pada umumnya, masyarakat masih menganggap produk-produk suplemen pelangsing sebagai produk makanan, bukan produk obat. Oleh sebab itu, masyarakat memiliki asumsi bahwa semua produk suplemen pelangsing adalah produk yang aman, sehingga kerapkali masyarakat menyalahgunakan pemakaian suplemen ini. Dalam hal ini, para petugas kesehatan mengemban tanggungjawab untuk terus melakukan edukasi dan penyebaran informasi secara menyeluruh (dosis, khasiat, resiko efek samping, cara penggunaan) terkait produk suplemen pelangsing. Di sisi lain, perusahaan suplemen pelangsing juga harus memastikan bahan-bahan yang digunakan dalam produknya aman dan berkhasiat. Selain itu, strategi marketing yang dilakukan juga harus menaati peraturan yang sudah ada, dengan menghindari klaim-klaim khasiat yang berlebihan dan tidak masuk dalam logika klinis.

Referensi:
1. Manso, Gloria., Lopez-Rivas, Laureano., Salgueiro, Esther M., Duque, Jose M., Jimeno, Francisco J., Andrade, Raul J., Lucena, Isabel M, 2011, Continuous reporting of new cases in Spain supports the relationship between X products and liver injury, Pharmacoepidemiology and Drug Safety, 20: 1080-1087.
2. Navarro, Victor J., Khan, Ikhlas., Bjornsson, Einar., Seef, Leonard B., Serrano, Jose., Hoofnagle, Jay H, 2017, Liver injury from herbal and dietary supplements, Hepatology, 65(1): 363-373.

Interaksi Warfarin Dengan Beberapa Herbal

Interaksi Warfarin Dengan Beberapa Herbal

Interaksi Warfarin dengan Beberapa Herbal
Oleh: Tim Artikel Carijamu

Warfarin merupakan antikoagulan yang paling umum digunakan sejak mendapatkan izin edar pada tahun 1954. Warfarin sangat efektif untuk mencegah dan menangani deep venous thrombosis dan dapat memperbaiki gejala pada pasien yang menderita atrial fibrilasi, prosthetic heart valves, indwelling central venous catheters, dan infark miokardial (serangan jantung). Obat ini juga digunakan untuk mencegah terjadinya stroke ulangan, utamanya pada stroke iskemik. Namun, terapi menggunakan antikoagulan memerlukan kontrol yang cermat terhadap keadaan pembekuan darah, untuk menghindari kemungkinan terjadinya perdarahan.

Efek antikoagulasi pada warfarin melalui mekanisme penghambatan siklus vitamin K di hati. Dalam proses koagulasi, aktivasi faktor-faktor pembekuan darah adalah sangat penting untuk terbentuknya bekuan darah. Salah satu faktor pembekuan darah yang paling berperan adalah vitamin K dependent proteins, yang diduga, jika mengurangi vitamin K, maka akan memengaruhi aktivasi faktor-faktor pembekuan darah. Vitamin K apoxide reductase (VKOR) merupakan enzim yang bertanggung jawab memperantarai sintesis vitamin K, jika kadar vitamin K berkurang. Warfarin, dengan menghambat enzim VKOR, dapat mencegah aktivasi dari faktor-faktor pembekuan darah dan mengurangi gumpalan bekuan darah.

Penggunaan warfarin harus dikontrol dengan ketat, meskipun memiliki bukti ilmiah klinis yang kuat. Pertimbangan itu disebabkan karena indeks terapi yang sempit, kecenderungan warfarin untuk berinteraksi dengan obat lain dan herbal, dan potensi untuk menyebabkan perdarahan. Sekitar 40% pasien dengan stroke dan penyakit kardiovaskuler menggunakan obat yang diresepkan dengan herbal secara bersamaan. Potensi interaksi antara obat herbal dan warfarin telah menjadi salah satu penyebab efek samping dari penggunaan warfarin. Anggapan masyarakat umum, bahwa obat herbal selalu aman karena bersumber dari alam harus dikoreksi karena obat herbalpun juga memiliki berbagai kemungkinan efek samping, terutama diakibatkan interaksinya dengan obat sintesis. Ekstrak dari tumbuhan sangat berbeda dibandingkan dengan obat sintesis, karena kandungan dalam ekstrak tumbuhan mengandung campuran dari berbagai komponen bioaktif. Bermacam-macam komponen biokatif itu yang mungkin menyebabkan interaksi dengan zat aktif spesifik dalam obat sintesis.

Pada umumnya, mekanisme interaksi antara obat herbal dengan obat sintesis dibedakan menjadi dua kategori yaitu, interaksi melalui mekanisme farmakokinetik dan farmakodinamik. Obat dapat dikatakan bereaksi melalui farmakokinetik jika interaksi antara dua obat memengaruhi kadar obat karena perubahan pada proses absorpsi, distribusi, metabolisme atau ekskresi. Pada interaksi farmakodinamik tidak terjadi perubahan kadar obat dalam darah. Tetapi, yang terjadi adalah perubahan efek obat yang disebabkan oleh obat presipitan karena pengaruhnya pada tempat kerja obat. Artinya, ada perubahan tindakan obat tanpa perubahan konsentrasi serum melalui faktor-faktor farmakokinetik. Efek farmakodinamik yang dapat terjadi karena interaksi obat, adalah efek adisi dan efek antagonis.

Dari beberapa referensi, warfarin memiliki kecenderungan dengan berbagai herbal, antara lain bawang putih (Allium sativum), ginseng (Panax ginseng), teh (Camelia sinensis). Berikut ulasannya:

1. Interaksi antara warfarin dengan bawang putih (Allium sativum)

Bawang putih telah banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk mengobati infeksi pernafasan dan penyakit kardiovaskuler. Tumbuhan ini juga dipercaya memiliki aktivitas antitrombotik. Beberapa laporan kasus menunjukkan bahwa konsumsi bawang putih dapat meningkatkan nilai International Normalised Ratio/INR (waktu yang diperlukan darah untuk membentuk bekuan darah) dan menyebabkan perdarahan pada pasien yang diberi warfarin. Beberapa pasien yang diberi warfarin mempunyai INR lebih tinggi dua kali dan mengalami hematuria selama 8 minggu setelah mengonsumsi bawang putih sekali sehari. Bahkan, pada pasien lain yang sedang menjalani terapi menggunakan warfarin tetapi juga mengonsumsi tablet bawang putih sekali sehari memperlihatkan nilai INR yang lebih tinggi dari dua kali dibanding yang tidak mengonsumsi tablet bawang putih. Bawang putih dapat mengurangi terjadinya proses agregasi platelet, yang dapat meningkatkan resiko perdarahan. Bukti klinis terkait interaksi warfarin dengan bawang putih masih terbatas. Namun, akan lebih bijaksana jika mempertimbangkan kemungkinan efek perdarahan ketika menggunakan warfarin bersama bawang putih.

2. Interaksi antara warfarin dengan ginseng (Panax ginseng)

Secara umum, ginseng digunakan untuk mengurangi stres dan meningkatkan stamina, baik fisik dan mental. Senyawa aktif utama dalam ginseng adalah ginsenosida, yang dapat menghambat agregasi platelet dan pembentukan tromboksan. Satu penelitian menunjukkan kapsul ginseng yang digunakan tiga kali sehari selama 2 minggu berefek pada berkurangnya efek antikoagulan pada warfarin. Penelitian klinis juga memperlihatkan hal yang serupa, ginseng Amerika dengan dosis 1,0 g dua kali sehari selama 3 minggu dapat mengurangi kadar warfarin dalam plasma (dengan parameter Area Under Curve). Namun, penelitian pra klinis menggunakan hewan uji gagal menemukan bukti interaksi antara warfarin dan ginseng. Studi in vitro menemukan bahwa ginseng mengandung komponen-komponen antiplatelet yang dapat menghambat agregasi platelet dan pembentukan tromboksan. Hal-hal di atas yang perlu dipertimbangkan ketika akan menggunakan warfarin dan ginseng secara bersamaan.

3. Interaksi antara warfarin dengan teh (Camelia sinensis)

Teh memiliki kandungan vitamin K yang tinggi. Daun teh kering mengandung vitamin K sejumlah 1428 µg/100 g. Namun, pada daun teh yang sudah diseduh kandungan vitamin K mengalami pengurangan, menjadi sebesar 0,03 µg/100 g daun teh. Beberapa laporan kasus melaporkan adanya interaksi antara warfarin dan teh, diantaranya adalah seorang pria berusia 44 tahun menggunakan warfarin dengan dosis 7,5 mg sekali sehari untuk mencegah serangan stroke dan rutin mengonsumsi teh mengalami penurunan nilai INR yang signifikan, dari 3,79 menjadi 1,37. Setelah menghentikan konsumsi teh, nilai INR meningkat menjadi 2,55. Pada kasus lain, seorang wanita berusia 67 tahun menggunakan warfarin dengan dosis 32 mg/minggu. Setelah melaksakan terapi selama 3 minggu, pasien ini berhenti mengonsumsi teh, dan setelah 1 minggu, nilai INR pasien ini meningkat dari 1,7 menjadi 5,0. Efek tersebut diduga akibat kandungan vitamin K dalam teh. Jenis interaksi ini adalah interaksi yang bertentangan atau bersifat antagonistik, artinya kandungan vitamin K yang berperan dalam pembentukan bekuan darah, akan mengurangi efektivitas antikoagulan dari warfarin. Selain kandungan vitamin K, dalam daun teh juga terkandung senyawa aktif lain, yaitu katekin dan kafein. Kedua senyawa ini dapat menghentikan pelepasan asam arakidonik dari platelet, dengan demikian akan menghambat proses pembentukan bekuan darah. Jadi, ada dua kemungkinan efek interaksi yang terjadi akibat penggunaan warfarin dan teh secara bersamaan, yaitu mengurangi efektivitas antikoagulan warfarin dan resiko terjadinya perdarahan.

Referensi:

  1. Wardrop, D., Keeling, D, 2008, The story of discovery of heparin and warfarin, British Journal of Haematology, 141(6): 757-763.
  2. Horton, J. D., Bushwick, B. M, 1999, Warfarin therapy: evolving strategies in anticoagulant, American Family Physician, 59(3): 635-646.
  3. Williamson, E., Driver, S., Baxter, K, 2009, Stockley’s Herbal Medicine Interactions, Pharmaceutical Press: UK.
  4. Janetzky, K., Morreale, A.P., 1997, Probable interactions between warfarin and ginseng, American Journal of Health-System Pharmacy, 54(6): 692-693.
  5. Rosado, M. F., 2003, Thrombosis of a prosthetic aortic valve disclosing a hazardous interaction between warfarin and commercial ginseng product, Cardiology, 99(2): 111.
  6. Parker, D. L., Hoffman, T. K., Tucker, M. A., Meier, D. J., 2009, Interactions between warfarin and black tea, Annals of Pharmacotherapy, 43(1): 150-151.
  7. Taylor, J. R., Wilt, V. M., 1999, Probable antagonism of warfarin by green tea, Annals of Pharmacotherapy, 33(4): 426-428.
  8. Syamsudin, 2011, Interaksi Obat: Konsep Dasar dan Klinis, UI Press: Jakarta.
  9. Junaidi, Iskandar, 2011, Stroke: Waspadai Ancamannya, Penerbit Andi: Yogyakarta.
Gas Etilen Falling In Love

Gas Etilen Falling In Love

Etilen merupakan hormon tumbuhan pertama dalam bentuk gas. Jika buah jeruk yang sudah matang disatukan bersama buah pisang, buah pisang tersebut matang lebih cepat karena jeruk mengeluarkan gas etilen . Penemuan hormon ini pada tumbuhan kali pertama diungkapkan oleh R. Gane pada 1934.

Etilen dibuat tumbuhan dan menyebabkan pematangan yang lebih cepat pada banyak buah, termasuk pisang. Pembentukan gas etilen memerlukan Odan dihambat oleh CO2.

Semua bagian tumbuhan angiospermae dapat menghasilkan gas etilen. Pembentukannya terutama terjadi di akar, meristem apikal pucuk, modus, bunga yang gugur, dan buah matang. Gas etilen memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan, di antaranya sebagai berikut.

  • Pematangan buah. Para pedagang sering menyimpan buah dalam wadah yang diberi gas CO2 pada saat pengiriman agar buah lebih lama matang dan matang setelah sampai tujuan. Terkadang pedagang memeram buah matang dengan buah yang baru agar cepat matang
  • Gas etilen menghambat perbungaan pada banyak tumbuhan. Akan tetapi, pada beberapa jenis tumbuhan, gas etilen merangsang perbungaan. Contohnya pada pohon mangga dan nanas.
  • Merangsang absisi (pengguguran daun).
  • Bersama giberelin menentukan ekspresi organ kelamin tumbuhan, contohnya pada mentimun.

Sumber :

biologi-indonesia.blogspot.com

Jamu Adalah Obat Tradisional Indonesia

Jamu Adalah Obat Tradisional Indonesia

Jamu merupakan obat tradisional asli Indonesia. Sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang menjadi brand Herbal Indonesia, penyalahgunaan jamu diberbagai daerah tak heran banyak terjadi karena masih lemahnya pengawasan dan banyak orang yang kurang berkopeten atau bahkan mereka yang berkompeten sengaja menyalahgunakannya. Jika demikian, jangan dulu Menuju Indonesia Daulat Bahan Baku Obat.

Jika Tiongkok punya TCM (Traditional Chinese Medicine). Jika India punya Ayureveda.
Maka Indonesia punya namanya JAMU yang harus kita modernisasi dan lestarikan agar kita mandiri bahan baku obat dimasa yang akan datang.

Mari kita benahi dan cintai produk asli Indonesia ini.

Jamu merupakan obat tradisional asli Indonesia. Sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang menjadi brand Herbal Indonesia, penyalahgunaan jamu diberbagai daerah tak heran banyak terjadi karena masih lemahnya pengawasan dan banyak orang yang kurang berkopeten atau bahkan mereka yang berkompeten sengaja menyalahgunakannya. Jika demikian, jangan dulu Menuju Indonesia Daulat Bahan Baku Obat. 
Jika Tiongkok punya TCM (Traditional Chinese Medicine). Jika India punya Ayureveda. Maka Indonesia punya namanya JAMU yang harus kita modernisasi dan lestarikan agar kita mandiri bahan baku obat dimasa yang akan datang.
Mari kita benahi dan cintai produk asli Indonesia ini.

Jamu Adalah Obat Tradisional Indonesia

Jamu merupakan obat tradisional asli Indonesia. Sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang menjadi brand Herbal Indonesia, penyalahgunaan jamu diberbagai daerah tak heran banyak terjadi karena masih lemahnya pengawasan dan banyak orang yang kurang berkopeten atau bahkan mereka yang berkompeten sengaja menyalahgunakannya. Jika demikian, jangan dulu Menuju Indonesia Daulat Bahan Baku Obat. Jika Tiongkok punya TCM (Traditional Chinese Medicine). Jika India punya Ayureveda. Maka Indonesia punya namanya JAMU yang harus kita modernisasi dan lestarikan agar kita mandiri bahan baku obat dimasa yang akan datang. Mari kita benahi dan cintai produk asli Indonesia ini.
Satuan Takar Jamu di Indonesia

Satuan Takar Jamu di Indonesia