Alang-Alang, Rumput Liar Kaya Khasiat

Ilalang atau alang-alang (Imperata cylindrica L.) termasuk famili rumput-rumputan (Poaceae) yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, karena dikenal sebagai sejenis tumbuhan pengganggu (gulma) yang paling bandel dan sulit dibasmi. Sebagai rumput liar, pertumbuhan tumbuhan ini tidak memerlukan persyaratan khusus, berkembang biak secara alami baik secara vegetatif maupun generatif, bahkan, dapat tumbuh dengan subur pada habitat dan iklim yang kurang mendukung sekalipun. Namun, di samping gangguan yang diakibatkan keberadaannya, ternyata alang-alang sudah dimanfaatkan oleh nenek moyang kita sebagai obat untuk beberpa penyakit. Beberapa pustaka tentang pengobatan tradisional menyebutkan alang-alang pernah dimanfaatkan untuk obat demam, kencing nanah, tekanan darah tinggi, dan penyembuh luka1. Bahkan, alang-alang juga disebutkan sebagai salah satu tumbuhan obat yang terdaftar di Traditional Chinese Medicine (TCM) yang digunakan sebagai agen diuretik dan antiinflamasi2. Tentu, bukti-bukti empiris tersebut perlu dibuktikan melalui tahapan-tahapan penelitian klinis yang panjang, dari pra-klinis hingga klinis. Berikut adalah potensi-potensi klinis alang-alang berdasarkan referensi ilmiah:

1. Membantu menurunkan tekanan darah

Ekstrak metanol akar alang-alang yang diberikan secara oral dengan dosis 60 dan 90 mg/kgBB memmpunyai efek menurunkan tekanan darah pada tikus jantan galur wistar Penelitian lain menyatakan ekstrak etanol daun alang-alang dengan dosis 160 dan 320 mg/kgBB yang diberikan secara intravena memberikan efek pengurangan tekanan darah pada hewan coba kucing dari 266 mmHg menjadi 180 mmHg. Ekstrak ini memperlihatkan sifat vasodilatasi yang mirip dengan mekanisme kerja adrenalin3. 

Senyawa-senyawa aktif dalam dekokta akar alang-alang adalah 5-hidroksi-2-stirilkromon, asam khlorogenik, asam siringik, dan silindrin. Mekanisme aksi senyawa-senyawa tersebut untuk menurunkan tekanan darah adalah dengan menghambat enzim Angiotensin Converting Enzym (ACE)4. Jika ACE dihambat, maka angiotensin I (AT 1) tidak dapat diubah menjadi angiotensin II (AT II). AT II ini dapat meningkatkan tekanan darah dengan beberapa mekanisme, diantaranya adalah melalui efek langsung pada pembuluh darah yaitu berupa vasokontriksi sekaligus perubahan struktur yang menyebabkan kenaikan resistensi sehingga menaikkan tekanan darah dan menstimulasi sintesis hormon aldosteron dari kelenjar korteks adrenalin5. Hormon aldosteron ini bersifat retensi natrium dan air, sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah6. Efek lain dari AT II berhubugan dengan kenaikan sekresi vasopresin dan endotelin, merangsang keinginan untuk minum dan menstimulasi pelepasa hormon antidiuretik5. Dari 5 senyawa aktif yang disebutkan di atas, silindrin memiliki potensi penghambatan ACE paling kuat. Hal tersebut dapat diketahui melalui pendekatan in silico, senyawa-senyawa aktif ekstrak diposisikan sebagai ligan dan ACE sebagai reseptor atau protein target dengan parameter energi ikatan bebas, konstanta inhibisi, dan interaksi permukaan5.

2. Penurun Suhu Tubuh

Penelitian yang dilakukan Chairul menunjukkan bahwa ekstrak alkohol akar alang-alang dapat menurunkan suhu tubuh tikus putih galur swiss yang diinduksi dengan vaksin kotipa. Vaksin ini mengandung sejumlah bakteri, yaitu Vibrio choleraeSalmonella thyposa, dan Salmonella parathypi A, B, dan C. Bakteri tersebut jika masuk ke dalam tubuh akan menyebabkan demam sebagai akibat dari terbentuknya antibodi.

Pemberian dosis 30, 50, 100, dan 150 mg/kgBB ekstrak alkohol akar alang-alang menunjukkan penurunan suhu tubuh yang signifikan dan mencapai ke keadaan suhu tubuh normal. Dosis 50 mg/kgBB memberikan penurunan suhu tubuh setara dengan parasetamol dosis 200 mg/kgBB. Efek antipiretik ini kemungkinan ditimbulkan akibat efek diuretik oleh zat-zat yang terkandung di dalamnya, antara lain kandungan natrium, kalium, dan senyawa karbohidrat (glukosa, sukrosa, dan manitol). Ion natrium, kalium, serta manitol memengarugi enzim ATPase dalam transportasi cairan tubuh pada selaput basolateral sel tabular, sehingga reabsorpsi air dari luminal ke lumen urin jadi meningkat. Ini mengakibatkan lumen urin menjadi cepat penuh, sehingga urin lebih sering disekresikan beriringan dengan pelepasan panas tubuh bersama urin1.

3. Sumber Alternatif Antioksidan

Ekstrak metanol akar alang-alang mengandung senyawa fenol, dengan kadar polifenol total dalam ekstrak sebesar 1,53%. Senyawa fenol merupakan suatu senyawa yang mengandung gugus hidroksil (-OH) yang terikat langsung pada gugus cincin hidrokarbon aromatik. Aktivitas antioksidan dari senyawa fenol terbentuk karena kemampuan senyawa fenol membentuk ion fenoksida yang dapat memberikan satu elektronnya kepada radikal bebas. Mekanisme umumnya yaitu, antioksidan senyawa fenol (PhH) dapat bereaksi dengan radikal bebas (ROO•) membentuk ROOH dan sebuah senyawa fenol radikal (Ph•) yang relatif tidak reaktif. Selanjutnya, senyawa fenol radikal (Ph•) dapat bereaksi kembali dengan radikal bebas (ROO•) membentuk senyawa yang tidak radikal6.

Dari pengukuran melalui parameter penangkapan sebuah radikal bebas, 1,1-difenil-2-pikrihidrazil (DPPH), ekstrak metanol memiliki nilai IC50 = 0,32 mg/mL, yaitu konsentrasi dari antioksidan dapat meredam atau menghambat 50% radikal bebas. Artinya, ektrak metanol akar alang-alang mampu mengoksidasi DPPH, atau dapat dinyatakan mempunyai aktivitas sebagai antioksidan6. Penelitian lain menggunakan metode reduksi ferrisianida menunjukkan bahwa ekstrak air rimpang alang-alang mempunyai nilai IC50 sebesar 0,0948 mg/mL, sementara nilai IC50  asam askorbat (vitamin c) sebesar 0,1096 mg/mL7.


Referensi :

  1. Chairul, 2000, Pengaruh pemberian akar ilalang (Imperata cylindrica) terhadap penurunan suhu tubuh tikus putih jantan, Berita Biologi, 5(2): 247-254.
  2. Rong-hua, liu., Shi-sheng, Chen., Gang, Ren., Feng, Shao., Hui-lian, Huang, 2013, Phenolic compounds from roots of Imperata cylindrica var. major, Chinese Herbal Medicine,      5(3): 240-243.
  3. Mak-Mensah, E. E., Komlaga, G., Terlabi, E. O., 2010, Antihypertensive action of ethanolic extract of Imperata cylindrica leaves in animal models, Journal of Medical Plants       Research, 4(14): 1486-1491.
  4. Rahmasari, Alreisa Yulinda., Hakim, Reza., Damayanti, Dini Sri, 2015, Potensi antihipertensi ekstrak akar alang-alang (Imperata cylindrica) dengan penghambatan aktivitas ACE (studi in silico), Jurnal Kedokteran Komunitas, 3(1): 239-246.
  5. Oparil, Suzanne., Zaman, M. Amin., A. Calhoun, David,  2003, Pathogenesis of   hypertension, Annals of Internal Medicine, 139(9): 761-777.
  6. Dhianawaty, Diah., Ruslin, 2015, Kandungan total polifenol dan aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol akar Imperata cylindrica (L) Beauv. (alang-alang), MKB, 47(1): 60-           64.
  7. Zhou, Xian-rong., Wang, Jian-hua., Jiang, Bo., Shang, Jin., Zhao, Chang-qiong, 2013, A study of extraction process and in vitro antioxidant activity of total phenols from          rhizoma empiratae, Journal of Traditional Complement and Alternative Medicine, 10(4): 175-178.

Komentar

  • Kirim Komentar