Suplemen spirulina, Yakin Aman?

Sekarang ini banyak bermunculan berbagai macam suplemen nutrisi untuk  menjaga  kesehatan tubuh. Berbagai macam suplemen tersebut sangat mudah didapatkan baik melalui penjualan secara offline maupun online. Salah satu suplemen nutrisi yang sekarang ini sedang booming dimasyarakat yaitu suplemen spirulina. Spirulina sp. merupakan Cyanobacteria yang biasanya hidup di perairan danau atau perairan dengan kandungan garam yang tinggi (Budiardi, 2010). Spirulina sp. banyak dimanfaatkan dalam bioteknologi nutrisional, industri, lingkungan serta banyak dimanfaatkan juga sebagai bahan tambahan makanan pada ikan. Hal ini dikarenakan Spirulina sp. mengandung protein 60–71%, lemak 8%, karbohirdrat 16%, dan vitamin serta 1,6% Chlorophyll-a, 18% Phycocyanin, 17% β-Carotene,dan 20–30% γlinoleaic acid dari total asam lemak (Robi, 2014). Spirulina sp. juga telah digunakan sebagai suplemen atau makanan pelengkap oleh penduduk Afrika sebagai sumber makanan tradisional (Christwardana, 2013).

Spirulina dikenal sebagai superfood alias makanan super yang memiliki banyak manfaat baik bagi tubuh. Diantara manfaat dari suplemen spirulina untuk kesehatan adalah dapat menurunkan kadar trigliserida dan lemak jahat dalam tubuh, sebagai antioksidan, antiinflamasi (anti radang) dan dapat menurunkan tekanan darah, serta dapat mengontrol kadar gula darah. Dari sekian banyak manfaat yang ada pada suplemen spirulina ternyata ada efek samping yang cukup berbahaya bagi tubuh ketika seseorang mengkonsumsi suplemen spirulina, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Mengonsumsi spirulina dapat memperburuk gejala fenilketonuria. Fenilketonuria adalah kelainan yang didapat secara genetik dimana seseorang tidak bisa memetabolisme asam amino yang disebut fenilalanin karena kurangnya enzim yang disebut fenilalanin hidroksilase. Dari penelitian yag dilakukan oleh Iriani Setyaningsih dkk pada tahun 2011 diketahui bahwa jenis asam amino esensial pada spirulina jenis Spirulina fusiformis salah satunya adalah fenilalanin. 
  2. Mengonsumsi spirulina dapat menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan. Dari penelitian yang dilakukan oleh Dewi Susanna dkk pada tahun 2007 dapat diketahui bahwa spirulina mengandung microcystins (racun yang diproduksi oleh ganggang biru-hijau) yang diketahui dapat menimbulkan penyakit lambung yang serius seperti dehidrasi akut dan gangguan pencernaan lainnya seperti diare, pusing dan muntah.
  3. Mengonsumsi spirulina dapat beresiko mengalami keracunan logam berat. Beberapa jenis (varietas) tertentu dari spirulina yang diproduksi dibawah pengaturan yang tidak terkendali sering dipenuhi dengan logam berat, seperti merkuri, kadmium, arsenik, dan timbal.

Selain itu, perlu diperhatikan juga jenis sprilunia yang akan dikonsumsi dan tetap mengkonsumsi dalam jumlah yang sesuai. Sebaiknya dipilih spirulina yang tumbuh dalam pengawasan yang ketat sehingga terbebas dari kontaminasi dan pastikan membeli produk spirulina yang sudah terdaftar di BPOM RI.


Referensi:

  • Budiardi, T., Utomo, N. B. P., & Santosa, A. 2010. Growth performance and nutrition value of Spirulina sp. under different photoperiod. Jurnal Akuakultur Indonesia, 9(2):146 156.
  • Christwardana, M., Nur, M. M. A., & Hadiyanto, H. 2013. Spirulina platensis: Potensinya sebagai bahan pangan fungsional. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 2(1):1-4.
  • Robi, N. H. 2014. Pemanfaatan ekstrak tauge kacang hijau (Phaseolus radiatus) sebagai pupuk untuk meningkatkan populasi Spirulina sp. (Skripsi). Universitas Airlangga.
  • Setyaningsih, I., Saputra, A. T., & Uju. 2011. Komposisi Kimia dan Kandungan Pigmen   Spirulina fusiformis pada Umur Panen yang Berbeda dalam Media Pupuk. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, 14(1):63–69.
  • Susanna, D., Zakianis, Hermawati, E., dan Adi, H.K. 2007. Pemanfaatan Spirulina platensis sebagai Suplemen Protein Sel Tunggal (PST) Mencit (Mus musculus). Makara Kesehatan, 11(1) 44-49.

Komentar

  • Kirim Komentar