Interaksi Warfarin dengan Beberapa Herbal
Oleh: Tim Artikel Carijamu

Warfarin merupakan antikoagulan yang paling umum digunakan sejak mendapatkan izin edar pada tahun 1954. Warfarin sangat efektif untuk mencegah dan menangani deep venous thrombosis dan dapat memperbaiki gejala pada pasien yang menderita atrial fibrilasi, prosthetic heart valves, indwelling central venous catheters, dan infark miokardial (serangan jantung). Obat ini juga digunakan untuk mencegah terjadinya stroke ulangan, utamanya pada stroke iskemik. Namun, terapi menggunakan antikoagulan memerlukan kontrol yang cermat terhadap keadaan pembekuan darah, untuk menghindari kemungkinan terjadinya perdarahan.

Efek antikoagulasi pada warfarin melalui mekanisme penghambatan siklus vitamin K di hati. Dalam proses koagulasi, aktivasi faktor-faktor pembekuan darah adalah sangat penting untuk terbentuknya bekuan darah. Salah satu faktor pembekuan darah yang paling berperan adalah vitamin K dependent proteins, yang diduga, jika mengurangi vitamin K, maka akan memengaruhi aktivasi faktor-faktor pembekuan darah. Vitamin K apoxide reductase (VKOR) merupakan enzim yang bertanggung jawab memperantarai sintesis vitamin K, jika kadar vitamin K berkurang. Warfarin, dengan menghambat enzim VKOR, dapat mencegah aktivasi dari faktor-faktor pembekuan darah dan mengurangi gumpalan bekuan darah.

Penggunaan warfarin harus dikontrol dengan ketat, meskipun memiliki bukti ilmiah klinis yang kuat. Pertimbangan itu disebabkan karena indeks terapi yang sempit, kecenderungan warfarin untuk berinteraksi dengan obat lain dan herbal, dan potensi untuk menyebabkan perdarahan. Sekitar 40% pasien dengan stroke dan penyakit kardiovaskuler menggunakan obat yang diresepkan dengan herbal secara bersamaan. Potensi interaksi antara obat herbal dan warfarin telah menjadi salah satu penyebab efek samping dari penggunaan warfarin. Anggapan masyarakat umum, bahwa obat herbal selalu aman karena bersumber dari alam harus dikoreksi karena obat herbalpun juga memiliki berbagai kemungkinan efek samping, terutama diakibatkan interaksinya dengan obat sintesis. Ekstrak dari tumbuhan sangat berbeda dibandingkan dengan obat sintesis, karena kandungan dalam ekstrak tumbuhan mengandung campuran dari berbagai komponen bioaktif. Bermacam-macam komponen biokatif itu yang mungkin menyebabkan interaksi dengan zat aktif spesifik dalam obat sintesis.

Pada umumnya, mekanisme interaksi antara obat herbal dengan obat sintesis dibedakan menjadi dua kategori yaitu, interaksi melalui mekanisme farmakokinetik dan farmakodinamik. Obat dapat dikatakan bereaksi melalui farmakokinetik jika interaksi antara dua obat memengaruhi kadar obat karena perubahan pada proses absorpsi, distribusi, metabolisme atau ekskresi. Pada interaksi farmakodinamik tidak terjadi perubahan kadar obat dalam darah. Tetapi, yang terjadi adalah perubahan efek obat yang disebabkan oleh obat presipitan karena pengaruhnya pada tempat kerja obat. Artinya, ada perubahan tindakan obat tanpa perubahan konsentrasi serum melalui faktor-faktor farmakokinetik. Efek farmakodinamik yang dapat terjadi karena interaksi obat, adalah efek adisi dan efek antagonis.

Dari beberapa referensi, warfarin memiliki kecenderungan dengan berbagai herbal, antara lain bawang putih (Allium sativum), ginseng (Panax ginseng), teh (Camelia sinensis). Berikut ulasannya:

1. Interaksi antara warfarin dengan bawang putih (Allium sativum)

Bawang putih telah banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk mengobati infeksi pernafasan dan penyakit kardiovaskuler. Tumbuhan ini juga dipercaya memiliki aktivitas antitrombotik. Beberapa laporan kasus menunjukkan bahwa konsumsi bawang putih dapat meningkatkan nilai International Normalised Ratio/INR (waktu yang diperlukan darah untuk membentuk bekuan darah) dan menyebabkan perdarahan pada pasien yang diberi warfarin. Beberapa pasien yang diberi warfarin mempunyai INR lebih tinggi dua kali dan mengalami hematuria selama 8 minggu setelah mengonsumsi bawang putih sekali sehari. Bahkan, pada pasien lain yang sedang menjalani terapi menggunakan warfarin tetapi juga mengonsumsi tablet bawang putih sekali sehari memperlihatkan nilai INR yang lebih tinggi dari dua kali dibanding yang tidak mengonsumsi tablet bawang putih. Bawang putih dapat mengurangi terjadinya proses agregasi platelet, yang dapat meningkatkan resiko perdarahan. Bukti klinis terkait interaksi warfarin dengan bawang putih masih terbatas. Namun, akan lebih bijaksana jika mempertimbangkan kemungkinan efek perdarahan ketika menggunakan warfarin bersama bawang putih.

2. Interaksi antara warfarin dengan ginseng (Panax ginseng)

Secara umum, ginseng digunakan untuk mengurangi stres dan meningkatkan stamina, baik fisik dan mental. Senyawa aktif utama dalam ginseng adalah ginsenosida, yang dapat menghambat agregasi platelet dan pembentukan tromboksan. Satu penelitian menunjukkan kapsul ginseng yang digunakan tiga kali sehari selama 2 minggu berefek pada berkurangnya efek antikoagulan pada warfarin. Penelitian klinis juga memperlihatkan hal yang serupa, ginseng Amerika dengan dosis 1,0 g dua kali sehari selama 3 minggu dapat mengurangi kadar warfarin dalam plasma (dengan parameter Area Under Curve). Namun, penelitian pra klinis menggunakan hewan uji gagal menemukan bukti interaksi antara warfarin dan ginseng. Studi in vitro menemukan bahwa ginseng mengandung komponen-komponen antiplatelet yang dapat menghambat agregasi platelet dan pembentukan tromboksan. Hal-hal di atas yang perlu dipertimbangkan ketika akan menggunakan warfarin dan ginseng secara bersamaan.

3. Interaksi antara warfarin dengan teh (Camelia sinensis)

Teh memiliki kandungan vitamin K yang tinggi. Daun teh kering mengandung vitamin K sejumlah 1428 µg/100 g. Namun, pada daun teh yang sudah diseduh kandungan vitamin K mengalami pengurangan, menjadi sebesar 0,03 µg/100 g daun teh. Beberapa laporan kasus melaporkan adanya interaksi antara warfarin dan teh, diantaranya adalah seorang pria berusia 44 tahun menggunakan warfarin dengan dosis 7,5 mg sekali sehari untuk mencegah serangan stroke dan rutin mengonsumsi teh mengalami penurunan nilai INR yang signifikan, dari 3,79 menjadi 1,37. Setelah menghentikan konsumsi teh, nilai INR meningkat menjadi 2,55. Pada kasus lain, seorang wanita berusia 67 tahun menggunakan warfarin dengan dosis 32 mg/minggu. Setelah melaksakan terapi selama 3 minggu, pasien ini berhenti mengonsumsi teh, dan setelah 1 minggu, nilai INR pasien ini meningkat dari 1,7 menjadi 5,0. Efek tersebut diduga akibat kandungan vitamin K dalam teh. Jenis interaksi ini adalah interaksi yang bertentangan atau bersifat antagonistik, artinya kandungan vitamin K yang berperan dalam pembentukan bekuan darah, akan mengurangi efektivitas antikoagulan dari warfarin. Selain kandungan vitamin K, dalam daun teh juga terkandung senyawa aktif lain, yaitu katekin dan kafein. Kedua senyawa ini dapat menghentikan pelepasan asam arakidonik dari platelet, dengan demikian akan menghambat proses pembentukan bekuan darah. Jadi, ada dua kemungkinan efek interaksi yang terjadi akibat penggunaan warfarin dan teh secara bersamaan, yaitu mengurangi efektivitas antikoagulan warfarin dan resiko terjadinya perdarahan.

Referensi:

  1. Wardrop, D., Keeling, D, 2008, The story of discovery of heparin and warfarin, British Journal of Haematology, 141(6): 757-763.
  2. Horton, J. D., Bushwick, B. M, 1999, Warfarin therapy: evolving strategies in anticoagulant, American Family Physician, 59(3): 635-646.
  3. Williamson, E., Driver, S., Baxter, K, 2009, Stockley’s Herbal Medicine Interactions, Pharmaceutical Press: UK.
  4. Janetzky, K., Morreale, A.P., 1997, Probable interactions between warfarin and ginseng, American Journal of Health-System Pharmacy, 54(6): 692-693.
  5. Rosado, M. F., 2003, Thrombosis of a prosthetic aortic valve disclosing a hazardous interaction between warfarin and commercial ginseng product, Cardiology, 99(2): 111.
  6. Parker, D. L., Hoffman, T. K., Tucker, M. A., Meier, D. J., 2009, Interactions between warfarin and black tea, Annals of Pharmacotherapy, 43(1): 150-151.
  7. Taylor, J. R., Wilt, V. M., 1999, Probable antagonism of warfarin by green tea, Annals of Pharmacotherapy, 33(4): 426-428.
  8. Syamsudin, 2011, Interaksi Obat: Konsep Dasar dan Klinis, UI Press: Jakarta.
  9. Junaidi, Iskandar, 2011, Stroke: Waspadai Ancamannya, Penerbit Andi: Yogyakarta.