RABIES : Tekan Kasusnya, Cegah Penularannya

Oleh : Tim Artikel Carijamu

Rabies atau penyakit anjing gila merupakan penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat (otak) disebabkan oleh virus rabies. Rabies ditularkan kepada manusia melalui pajanan atau gigitan hewan sehingga termasuk ke dalam kelompok penyakit zoonosa (zoonosis) yaitu penyakit yang ditularkan oleh hewan ke manusia. Rabies tidak dapat langsung disimpulkan bahwa disebabkan oleh pajanan atau gigitan semua hewan. Namun hanya beberapa hewan yang sudah terbukti secara penelitian yang dapat menyebabkan rabies, misalnya seperti anjing, kera, musang, anjing liar, dan kucing.

Di Indonesia kasus rabies muncul pertama kali sekitar tahun 1884 dan prevalensi kejadiannya kian meningkat dari tahun ke tahun. Selama periode 2011 hingga 2017, ada lebih 500.000 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang dilaporkan di Indonesia dan sebanyak 836 kasus positif rabies. Kawasan Asia dan Afrika menjadi kontributor terbesar kasus rabies hingga mencapai 95% (Depkes, 2018). Di Indonesia hewan penular utama yaitu anjing sebesar 98%, monyet dan kucing sebesar 2% (Infodatin rabies, 2016). Infeksi  rabies baik pada hewan maupun pada manusia yang telah menunjukkan gejala dan tanda klinis rabies pada otak (Encephalomyelitis) berakhir dengan kematian. Hanya terdapat 1 (satu) penderita yang hidup di dunia.

Dengan tema dari peringatan World Rabies Day (WRD) atau Hari Rabies Sedunia tahun 2019 yaitu Vaccinate to eliminate, masya­rakat internasional di­dorong untuk mem­vaksin hewan peli­haraan­nya guna menekan terjadi­nya kasus rabies. Di Indonesia kasus rabies cukup menjadi sorotan dari semua elemen baik negara (Kementrian Kesehatan RI) maupun masyarakat umum. Penatalaksanaan dan pencegahan kasus rabies sudah banyak digencarkan oleh Kementrian Kesehatan RI melalui infodatin (salah satu bentuk  produk informasi publik dalam bentuk newsletter) dan berbagai media lainnya.

Dikutip dari infodatin rabies tahun 2016 tentang tatalaksana Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) adalah sebagai berikut :

  1. Pencucian luka

Pencucian luka merupakan langkah pertama yang sangat penting. Luka gigitan dicuci        dengan air mengalir dan sabun/deterjen selama 10-15 menit.

  1. Pemberian Antiseptik

Pemberian antiseptik (alkohol 70%, betadine, obat merah, dll) dapat diberikan setelah pencucian luka.

  1. Tindakan penunjang

Luka karena Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) tidak boleh dijahit untuk mengurangi invasi atau masuknya virus pada jaringan luka, kecuali luka yang lebar dan dalam yang terus menerus mengeluarkan darah, dapat dilakukan jahitan (untuk menghentikan perdarahan). Sebelum dilakukan penjahitan luka, harus dibeikan suntikan infiltrasi Serum Anti Rabies (SAR) sebanyak mungkin disekitar luka.

Dikutip dari infodatin rabies tahun 2014 tentang pencegahan rabies adalah sebagai berikut:

  1. Pemeliharaan hewan piaraan dilaksanakan penuh rasa tanggung jawab dan memperhatikan kesejahteraan hewan, jangan diliarkan atau diumbar keluar pekarangan rumah tanpa pengawasan dan kendali ikatan.
  2. Berikan vaksinasi anti rabies pada hewan peliharaan anda secara berkala di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), dinas kesehatan hewan atau dinas peternakan, atau ke dokter hewan.
  3. Segera melapor ke puskesmas/rumah sakit terdekat apabila digigit oleh hewan tersangka rabies untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) sesuai indikasi.
  4. Apabila melihat binatang dengan gejala rabies, segera laporkan kpada Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), dinas peternakan/ yang membawahi bidang peternakan atau dinas kesehatan hewan.

Rabies dapat dikatakan penyakit yang fatal dan sangat mematikan. Untuk itu diperlukan perhatian khusus terhadap pencegahan dan penanganannya. Dengan memberikan vaksinasi terhadap hewan peliharaan merupakan salah satu langkah preventif (pencegahan) terhadap penularan rabies di dunia.

Referensi :

  1. Departemen Kesehatan RI. 2018. Rabies Penyaki Paling Mematikan di Dunia.                           http://www.depkes.go.id/article/view/18100300005/rabies-penyakit-paling-mematikan-di-dunia.html. (Diakses 25 September 2019)
  2. Kementerian kesehatan RI. INFODATIN Pusat Data dan Informasi Kemeterian                         Kesehatan RI Rabies. 2014.
  3. Kementerian kesehatan RI. INFODATIN Pusat Data dan Informasi Kemeterian                            Kesehatan RI Rabies. 2016.