SENGKUBAK: Vetsin alami dari Kalimantan Barat
Oleh : Tim Artikel Carijamu

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki ragam budaya seperti tarian daerah, upacara adat, ragam kesenian, pakaian tradisional, hingga kuliner. Kuliner Indonesia merupakan salah satu hal yang sangat terkenal bahkan sampai ke mancanegara, diantaranya yaitu rendang, sate, dan nasi goreng. Kekayaan rempah yang dimiliki oleh Indonesia membuat masakan Indonesia memiliki cita rasa yang khas. Salah satu bahan masakan yang selalu hadir ialah penyedap rasa, seperti garam, gula, lada, dan lainnya, namun tidak jarang pula masyarakat Indonesia menggunakan penyedap rasa instan seperti beberapa merk terkenal yang mayoritas mengandung vetsin atau MSG (Monosodium glutamate).

                Berdasarkan laporan Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) menyebutkan secara umum vetsin atau Monosodium glutamate (MSG) aman dikonsumsi, tetapi terdapat dua kelompok yang menunjukkan reaksi akibat konsumsi MSG ini. Pertama adalah kelompok orang yang sensitif terhadap MSG yang berakibat muncul keluhan berupa rasa panas di leher, lengan dan dada, diikuti kaku pada otot dari daerah tersebut menyebar sampai ke punggung. Adapun Gejala lain berupa rasa panas dan kaku di wajah diikuti nyeri dada, sakit kepala, mual, berdebar-debar dan terkadang sampai muntah. Gejala ini mirip dengan Chinese Restaurant Syndrome, tetapi kemudian lebih tepat disebut MSG Complex Syndrome. Sindrom ini terjadi segera atau sekitar 30 menit setelah konsumsi dan bertahan selama sekitar 3-5 jam. Sedangkan kelompok kedua adalah penderita asma, yang banyak mengeluh meningkatnya serangan setelah mengkonsumsi MSG. Munculnya keluhan di kedua kelompok tersebut terutama pada konsumsi sekitar 0,5-2,5 g MSG (Widyalita, dkk., 2014).

                Selain MSG Complex Syndrome, keinginan untuk menjalalankan gaya hidup sehat membuat masyarakat lebih memilih menggunakan penyedap dari bahan alami atau bio vetsin dibandingkan dengan penyedap rasa instan. Di Provinsi Kalimantan Barat tepatnya Kabupaten Sintang, daun sengkubak (Pycharrhena cauliflora (Miers.) Diels), tanaman yang termasuk dalam keluarga manispermaceae ini kerap dijadikan bumbu penyedap oleh masyarakat Sintang, Kalimantan Barat secara turun-temurun. Tanaman berdaun lancip ini tumbuh secara liar di ketinggian 100-150 meter, baik di dataran rendah maupun perbukitan.

                Menurut penelitian Melani Setyasi, dkk. pada tahun 2013 Hasil terbaik ekstrak daun sansakng atau sengkubak dari uji organoleptik terbaik diperoleh pada konsentrasi 1% dengan metode infudasi yang  dilakukan pada suhu 900C selama 15 menit. Hasil organoleptik produk bubuk terbaik diperoleh pada konsentrasi bobot sebesar 0,25%. Hasil ini menunjukkan bahwa konsentrasi produk bubuk sebesar 0,25% merupakan konsentrasi yang paling disukai panelis (Setyiasi, dkk., 2013). Pada penelitian Rizka (2015) dibuktikan bahwa Daun Sengkubak (Pycharrhena cauliflora (Miers.) Diels)  mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, triterpenoid atau steroid, tanin, dan fenol (Pamuji, 2015).

                Masyarakat Sintang mengolah daun sengkubak (Pycharrhena cauliflora (Miers.) Diels) menjadi penyedap rasa dengan cara menumbuk daun yang segar bersamaan dengan sayuran  yang kemudian dimasak, sedangkan untuk penggunaan dalam waktu lama daun ditumbuk atau dipotong kecil-kecil atau diiris tipis-tipis kemudian dikering anginkan dan disimpan dalam wadah tertutup. Digunakan pada waktu memasak sebelum olahan masak (Juita, dkk., 2015). Penggunaan daun sengkubak dapat dijadikan alternatif pengganti MSG sebagai penyedap rasa alami, namun daun ini masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungannya yang berkhasiat sebagai vetsin.

Sumber:

  1. Juita, N., Lovadi, I. and Linda, R. (2015) ‘Pemanfaatan Tumbuhan Sebagai Penyedap Rasa Alami Pada Masyarakat Suku Dayak Jangkang Tanjung Dan Melayu Di Kabupaten Sanggau’, Jurnal Protobiont, 4(3), pp. 74–80.
  2. PAMUJI, R. W. (2015) ‘UJI TOKSISITAS AKUTEKSTRAK ETANOL DAUN SENGKUBAK (PycnarrhenacaulifloraDiels) TERHADAP TIKUSBETINA GALUR WISTAR DENGAN METODE OECD 425’, pp. 1–13. Available at: https://media.neliti.com/media/publications/192926-ID-none.pdf.
  3. Setyiasi, M., Ardiningsih, P. and Nofiani, R. (2013) ‘ANALISIS ORGANOLEPTIK PRODUK BUBUK    PENYEDAP RASA ALAMI DARI EKSTRAK DAUN SANSAKNG ( Pycnarrhena cauliflora Diels)’, JKK, 2(1), pp. 65–69.
  4. Eka, W.,Sirajuddin, S. and Zakaria. (2014) ‘ANALISIS KANDUNGAN MONOSADIUM GLUTAMAT (MSG) PADA PANGAN JAJANAN ANAK DI SD KOMP. LARIANGBANGI MAKASSAR [makalah]. Makassar: FKM Universitas Hasanuddin.