Suplemen Pelangsing, Apakah Aman?

Oleh : Tim Artikel Carijamu

Di era ini, manusia menanggung banyak tuntutan. Bahkan, tuntutan-tuntutan itu yang mengatur hidup manusia. Pikiran dan tindakan yang kita pilih, tanpa sadar disetir oleh tuntutan, yang lama kelamaan menjadi sebuah konstruksi sosial. Salah satunya adalah bagaimana manusia memikirkan dan memandang tubuhnya dan tubuh manusia lain. Sulit untuk menyangkal, bahwa ganteng dan cantik selalu diasosiasikan dengan tubuh yang langsing. Hal inilah yang mendorong manusia untuk melakukan apapun agar meraih bentuk tubuh yang langsing. Namun, sayangnya, olahraga dan mengatur pola makan sangat membutuhkan disiplin dan konsistensi saat menjalankannya agar memperoleh hasil yang optimal, dan tidak semua orang memiliki ketahanan itu. Lalu, apa yang mereka lakukan jika tidak mampu olahraga dan mengatur pola makan? Jawabnya adalah mengonsumi produk-produk suplemen pelangsing.
Sudah menjadi sifat kebanyakan manusia: ingin menjalankan proses yang paling singkat tetapi mendapat hasil yang optimal. Celah itulah yang dimanfaatkan para perusahaan suplemen untuk memproduksi produk suplemen pelangsing. Iklan yang bombastis sekaligus endors dari para influencer di media sosial dengan kata-kata persuasif membuat banyak produk suplemen pelansing laris manis. Yang menjadi pertanyaan, apakah aman?
Penelitian yang dilakukan oleh Navarro, et al, tahun 2017 berjudul Liver Injury from Herbal and Dietary Supplements menunjukkan resiko yang diakibatkan dari konsumsi berbagai produk suplemen pelangsing. Penelitian prospektif selama 8 tahun tersebut menemukan 130 kasus berkaitan dengan produk suplemen herbal dan pelangsing dengan kejadian hepatotoksik (kerusakan pada hati). Terdapat 45 kasus dihubungkan dengan agen pembentuk tubuh yang mengandung steroid anabolik. Zat tersebut sering digunakan untuk membesarkan otot. Sisanya, sebanyak 85 kasus suplemen herbal pelangsing yang tidak mengandung steroid anabolik. Sebanyak 58 (68%) produk dalam kasus tersebut terdiri dari produk suplemen yang menggunakan multi-ingredient, termasuk diantaranya adalah produk yang cukup terkenal. Empat belas (16%) kasus diakibatkan oleh produk pelangsing yang terdiri dari satu bahan obat, seperti teh hijau, daun kratom, black cohosh). Tujuh (8%) kasus diakibatkan oleh ramuan herbal tradisional (ramuan herbal Cina, ramuan herbal Korea, dan ramuan herbal Ayurvedik). Enam (7%) kasus dihubungkan dengan vitamin sederhana atau mineral (niasin dan levokarnitin).
Penelitian lain dilakukan oleh Manso, et al (2011), dengan menggunakan data dari Spanish Pharmacovigilance Centre dalam rentang tahun 2003-2010. Penelitian ini menerangkan kejadian kerusakan hati akibat konsumsi salah satu produk suplemen pelangsing. Dari 20 laporan yang ditemukan, sebanyak 12 pasien (60%) terdiagnosis mengalami kerusakan hati hingga membutuhkan rawat inap, 9 pasien (53%) mengalami hepatitis, 1 pasien mengalami sirosis hati, dan lainnya sembuh.
Menemukan kausalitas (sebab-akibat) dari kasus tersebut membutuhkan analisis yang rumit, sebab mayoritas produk suplemen pelangsing menggunakan lebih dari satu bahan, baik bahan pokok dan bahan tambahan. Namun, salah satu bahan herbal yang kerap digunakan dalam suplemen pelangsing atau ramuan herbal adalah daun teh hijau (Camelia sinensis). Pasien yang mengalami kerusakan hati dan dicurigai akibat produk suplemen pelangsing yang mengandung ekstrak teh hijau memperlihatkan karakteristik hepatitis akut dalam 1-3 bulan pemakaian produk. Katekin dengan dosis tinggi yang terkandung dalam ektrak daun teh hijau, khususnya epigalokatekin galat (30%-50% terdapat dalam daun teh hijau kering), mempunyai efek hepatotoksik pada tikus uji. Pada umumnya, dosis aman teh hijau pada manusia sekitar < 12 mg/kg sehari. Sebenarnya, penyebab terjadinya kerusakan hati oleh produk suplemen pelangsing ini tidak serta merta akibat efek dari satu bahan saja, tetapi juga bahan-bahan lain yang ditambahkan, seperti penambahan obat-obat sintetik (sildenafil, agen antiinflamasi non-steroid, statin, dan kortikosteroid).
Pada umumnya, masyarakat masih menganggap produk-produk suplemen pelangsing sebagai produk makanan, bukan produk obat. Oleh sebab itu, masyarakat memiliki asumsi bahwa semua produk suplemen pelangsing adalah produk yang aman, sehingga kerapkali masyarakat menyalahgunakan pemakaian suplemen ini. Dalam hal ini, para petugas kesehatan mengemban tanggungjawab untuk terus melakukan edukasi dan penyebaran informasi secara menyeluruh (dosis, khasiat, resiko efek samping, cara penggunaan) terkait produk suplemen pelangsing. Di sisi lain, perusahaan suplemen pelangsing juga harus memastikan bahan-bahan yang digunakan dalam produknya aman dan berkhasiat. Selain itu, strategi marketing yang dilakukan juga harus menaati peraturan yang sudah ada, dengan menghindari klaim-klaim khasiat yang berlebihan dan tidak masuk dalam logika klinis.

Referensi:
1. Manso, Gloria., Lopez-Rivas, Laureano., Salgueiro, Esther M., Duque, Jose M., Jimeno, Francisco J., Andrade, Raul J., Lucena, Isabel M, 2011, Continuous reporting of new cases in Spain supports the relationship between X products and liver injury, Pharmacoepidemiology and Drug Safety, 20: 1080-1087.
2. Navarro, Victor J., Khan, Ikhlas., Bjornsson, Einar., Seef, Leonard B., Serrano, Jose., Hoofnagle, Jay H, 2017, Liver injury from herbal and dietary supplements, Hepatology, 65(1): 363-373.